Bakal Bullish, Ini 8 Saham Potensi Cuan Gede Tahun Ini

0
64

Jakarta, Nawacita – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia merekomendasikan sejumlah saham yang tahun ini diyakini bakal moncer sejalan dengan membaiknya perekonomian domestik.

Menurut Head of Research Mirae Asset, Hariyanto Wijaya, ada beberapa saham yang menjadi pilihan utama, antara lain saham di sektor komoditas seperti nikel, minyak sawit mentah crude palm oil (CPO), batu bara hingga emas.

Saham lainnya datang dari sektor perbankan big caps (berkapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun) dan sektor unggas (poultry).

Dia memperkirakan, saham di sektor komoditas masih berpeluang kembali meningkat sejalan dengan pulihnya ekonomi ketimbang tahun 2020

Mirae Asset, merekomendasikan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), karena emiten tersebut penerima manfaat dari kenaikan harga nikel seiring dengan naiknya permintaan dari produksi baja dan baterai kendaraan listrik.

Berikutnya, saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), juga masuk dalam radar top picks Mirae Asset, karena emiten sawit ini akan terdorong kenaikan harga CPO. Hariyanto memperkirakan, harga nikel bisa mencapai US$ 20.000 per ton.

“UNTR [PT United Tractors Tbk] juga masuk pilihan karena memperhitungkan dampak positif dari kenaikan harga emas. Adapun JPFA [PT Japfa Tbk] karena adanya pemulihan sektor unggas.” kata dia, dalam pemaparan secara daring, Rabu (13/1/2021).

Adapun untuk saham perbankan, Mirae Asset merekomendasikan empat saham bank the big four, yakni, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Mirae Asset juga memperkirakan, tahun ini akan terjadi perbaikan kinerja emiten di kuartal pertama tahun ini yang juga akan menjadi perhatian investor.

Sementara itu, sampai dengan penghujung tahun, perusahaan sekuritas yang terafiliasi dengan Mirae Asset Securities (HK) Limited Korea Selatan ini memperkirakan IHSG akan mencapai level 6.880.

Kenaikan tersebut akan ditopang oleh berbagai sentimen positif seperti vaksinasi Covid-19, perbaikan ekonomi serta aliran modal asing ke bursa saham domestik.

Menurut Hariyanto, di tahun ini, dia juga memperkirakan, investor asing akan cukup deras menempatkan dananya di Indonesia mengingat, secara valuasi saat ini juga masih jauh murah dibanding negara berkembang (emerging) lain.

Jika tahun lalu bursa saham domestik masih menorehkan net sell, maka tahun ini diperkirakan terjadi net buy.

Salah satu katalis yang menjadi daya tarik adalah adanya Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) dan lembaga Dana Abadi Negara atau Sovereign Wealth Fund (SWF) yang menambah keyakinan bagi investor berinvestasi.

“[Aliran modal asing] foreign berlanjut di tahun 2021, akan net buy. SWF, dengan Ciptaker, pemerintah punya itikad baik menghilangkan bottleneck [PDB] yang mentok 5%. Mereka melihat progres cukup bagus, itu mendorong masuk ke Indonesia sebagai emerging market,” tukas dia.

CNBC

LEAVE A REPLY