XL Axiata Kalahkan Telkom pada Semester I 2020

0
140
XL Axiata Kalahkan Telkom pada Semester I 2020.
XL Axiata Kalahkan Telkom pada Semester I 2020.

JAKARTA, Nawacita Sektor telekomunikasi menjadi salah satu yang paling dielu-elukan selama pandemi Covid-19. Bagaimana tidak, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menuntut aktivitas masyarakat untuk beralih dari offline menjadi serba online, mulai dari pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga work from home (WFH).

Alhasil, kebutuhan terhadap jaringan dan koneksi internet menjadi lebih besar daripada biasanya. Hal ini yang kemudian diklaim menjadi berkah bagi pelaku industri telekomunikasi, terutama para pemilik operator seluler.

Memang, sejumlah perusahaan telekomunikasi mengantongi keuntungan besar-besaran dengan kondisi tersebut. Namun, fakta menunjukkan bahwa itu tak berlaku untuk semua karena masih ada perusahaan telekomunikasi yang justru merugi pada semester I 2020. Siapakah mereka dan bagaimana jika dibandingkan dengan emiten telekomunikasi lainnya? Simak ulasan berikut ini.

1. XL Axiata (517,75%)

Kinerja keuangan PT XL Axiata Tbk (EXCL) terbilang positif sepanjang semester pertama tahun 2020 dan bahkan menjadi emiten dengan pertumbuhan kinerja terbaik di antara kompetitor lainnya, termasuk Telkom. Emiten telekomunikasi itu membukukan laba bersih sebesar Rp1,74 triliun. Angka tersebut tumbuh signifikan hingga 517,75% dari tahun lalu yang hanya Rp282,39 miliar.

Baca Juga: Telkom Terus Tingkatkan Layanan Internet Kepada Pelanggan

Laba yang tumbuh subur itu terjadi seiring dengan meningkatnya pendapatan XL Axiata pada paruh pertama tahun ini. Dilansir dari laporan keuangan XL Axiata, pendapatan pada paruh pertama 2020 mencapai Rp13,08 triliun. Capaian tersebut 6,68% lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp12,26 triliun.

Presiden Direktur dan CEO XL Axiata, Dian Siswarini, mengungkapkan bahwa kinerja perusahaan yang positif ditopang oleh meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap akses internet. Terlebih lagi, selama masa pandemi Covid-19 aktivitas belajar hingga bekerja banyak beralih dari luring menjadi daring.

“Trafik pemakaian data memang meningkat terutama pada bulan-bulan awal masa pandemi. Namun, kemudian trafik melandai karena daya beli masyarakat juga melemah seiring menurunnya kondisi ekonomi secara umum karena terdampak pandemi,” pungkasnya secara tertulis pada 27 Agustus 2020 lalu.

Memang, secara pendapatan XL Axiata mengalami pertumbuhan tipis. Namun, pada saat bersamaan perusahaan mampu menekan beban secara signifikan pada enam bulan pertama tahun ini. Alhasil, laba yang dihimpun angkanya melonjak drastis. Pada periode tersebut, XL Axiata berhasil menekan beban infrastruktur dari Rp4,67 triliun menjadi hanya Rp4,10 triliun.

Sementara itu, beban interkoneksi juga ditekan dari Rp961,38 miliar pada Juni 2019 menjadi Rp816,64 miliar pada Juni 2020. Begitu pun dengan beban penjualan dan pemasaran yang angkanya turun dari Rp946,74 miliar menjadi Rp888,17 miliar. Penurunan juga terjadi di pos beban gaji dan kesejahteraan dari Rp623,73 miliar menjadi Rp610,86 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi turun dari Rp305,01 miliar menjadi Rp171,62 miliar.

Bersamaan dengan usaha perusahaan menekan beban, Dian mengatakan bahwa XL Axiata melakukan beberapa upaya untuk menyiasati pelemahan daya beli masyarakat di tengah kompetisi penyedia layanan operator yang kian ketat. Salah satu hal yang dilakukan adalah merilis paket data baru dengan harga murah sehingga dipilih oleh konsumen dan berdampak pada peningkatan trafik. Sebagai catatan, trafik data XL Axiata meningkat 45% dari 1.531 Petabyte pada semester I 2019 menjadi 2.221 Petabyte pada semester I 2020.

“Menyikapi dinamika industri dan kompetisi yang terjadi, XL Axiata mengambil sikap hati-hati dan penuh perhitungan. Produk atau paket data baru dihadirkan dengan pertimbangan matang berdasarkan analisa data pola konsumsi layanan oleh para pelanggan yang sahih. Hasilnya cukup efektif dan sesuai dengan segmen pasar yang disasar,” pungkasnya lagi.

2. Telkom (-0,72%)

Emiten telekomunikasi BUMN, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mengantongi laba bersih sebesar Rp10,99 triliun pada semester pertama tahun 2020. Pencapaian tersebut menurun tipis sebesar 0,72% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp11,07 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, bersamaan dengan penurunan laba, Telkom mengantongi pendapatan 3,6% lebih rendah dari Rp69,35 triliun pada Juni 2019 menjadi Rp66,86 triliun pada Juni 2020. Kontributor pendapatan terbesar adalah segmen data, internet, dan jasa teknologi yang angkanya tumbuh 6,8% menjadi Rp35,3 triliun.

Berikutnya, Telkom mengantongi pendapatan IndiHome 19,1% lebih tinggi menjadi Rp10,4 triliun, sedangkan pendapatan interkoneksi tercatat meningkat 24,9% menjadi Rp4,1 triliun pada paruh pertama tahun ini. Pada saat yang bersamaan, pendapatan SMS, fixed, dan cellular voice menurun 27,5% menjadi Rp13 triliun. Begitu pun dengan pendapatan jaringan telekomunikasi lain yang turun sedalam 36,4% menjadi Rp4 triliun.

Direktur Keuangan Telkom, Heri Supriadi, menjelaskan bahwa pendapatan IndiHome yang tumbuh positif selaras dengan bertambahnya pengguna baru dan add-ons sepanjang semester pertama tahun ini. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa selama pandemi Covid-19 melanda, Telkom melakukan berbagai upaya untuk menjaga kinerja bisnis, salah satunya melalui akselerasi digital melalui segmen mobile atau juga fixed broadband.

“Selain itu, juga terjadi akselerasi transformasi dalam kegiatan bisnis, baik seperti digitasi dalam proses bisnis internal kami, seperti WFH yang didukung oleh jaringan yang kami miliki. Digital service juga mendukung kebutuhan layanan konsumen, yang sesuai dengan domain bisnis kami, yaitu digital connectivitydigital platform, dan digital service,” ujarnya sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi.

Perlu diketahui juga, kurang maksimalnya pendapatan dan laba juga disebabkan oleh pembengkakan di sejumlah pos beban. Misalnya saja, beban penyusutan dan amortisasi meningkat dari Rp11,47 triliun menjadi Rp13,93 triliun. Begitu juga dengan beban karyawan dan interkoneksi yang angkanya membengkak masing-masing menjadi Rp7,02 triliun dan Rp2,96 triliun pada akhir semester I 2020.

LEAVE A REPLY