Alasan Anak Muda Jaman Now yang Doyan Musik Jadul Dibanding Musik Kekinian

0
410
Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAKARTA, Nawacita Selera musik anak muda masa kini gak jauh-jauh dari K-pop, EDM, atau pop mainstream. Tapi, ada juga sebagian kecil yang justru mengikuti selera musik dari era jauh sebelum mereka lahir.

Sejak kemunculan berbagai macam genre pada awal abad ke-20 yang diawali dengan musik blues pada tahun 1903, industri musik terus berkembang sampai sekarang.

Berbagai macam genre dan subgenre terus bermunculan sejak saat itu. Mulai dari jaz (1904), country & folk (1930-an), R&B (1940-an), rock (1950-an), contemporary folk (1960-an), rap dan hip-hop (1970-an), punk rock (1974), dan pop (1980-an).

Perkembangan ini membuat industri musik jadi salah satu industri yang gak pernah mati dan berkembang bersama zaman.

Di tengah perkembangan musik inilah, rupanya ada anak-anak muda yang seleranya justru berkiblat ke masa lampau. Dibanding dengerin BTS, BLACKPINK, The Chainsmokers, Miley Cyrus, atau Dua Lipa, mereka lebih akrab dengan lagu-lagu jadul dari band era 1970-an hingga 1990-an.

Baca Juga: Daftar Album Musik Rock Paling Laris Sepanjang Masa

Misalnya seperti The Beatles, Gun N’ Roses, Oasis, Queen, Bee Gees, Pink Floyd, Radiohead, Nirvana, AC/DC, juga The Rolling Stones. Atau untuk di dalam negerinya, ada Iwan Fals, Ebiet G. Ade, Guruh Soekarnoputra, dan Mus Mulyadi.

Anak-anak muda ini, yang usianya 20-an tahun, kebanyakan mengaku tahu band-band dan para musisi lawas itu dari orang tua mereka yang penggemar band atau musisi tersebut.
Beranjak dewasa, akses untuk mengeksplorasi musik tersebut pun semakin terbuka lebar dengan adanya internet dan berbagai layanan streaming, baik yang gratis maupun berbayar.

Selain itu, gak sedikit orang tua yang mengoleksi berbagai macam piringan hitam (vinyl), kaset, hingga CD, dan DVD dari musisi-musisi yang digemarinya. Jadi, anak-anak muda makin gampang terpapar dengan musik-musik lama.

Belum lagi ada banyak juga lagu lama yang populer lagi di telinga anak muda zaman sekarang gara-gara dijadikan soundtrack film. Atau malah bandnya yang difilmkan seperti film “Bohemian Rhapsody” yang menyorot band legendaris Queen. Maulvi, 20, dan Awan, 24, mengaku suka mendengarkan musik era lampau karena flow musiknya mereka anggap lebih enak, cocok untuk relaksasi.

Selain itu, alasan-alasan lain seperti warna vokal yang lebih khas, liriknya yang lebih dalam dan jujur, keberadaannya yang gak sekadar mengikuti pasar, juga keberagaman tema yang dibawakannya, yang gak melulu soal cinta.

Susah Mencari Koleksi

Untuk mereka yang menggandrungi musik jadul sampai mengoleksi berbagai macam aksesorinya, ini jadi tantangan tersendiri karena barangnya yang langka. Maulvi mengaku untuk satu keping piringan hitam yang ingin dimilikinya, dia harus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah. Tentu hal ini masih harus ditambah dengan alat pemutarnya, gramofon,yang sekarang harganya bisa mencapai jutaan.

Beruntung Maulvi bisa memakai gramofon milik kakeknya yang udah gak dipakai lagi. Sementara Awan yang mengoleksi kaset mengaku harus mengeluarkan uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk kaset dan walkman yang berfungsi sebagai alat pemutarnya.
Baca Juga: Deretan Komposer Musik Paling Jenius Sepanjang Masa

“Supaya gampang mencarinya, saya gabung ke beberapa klub pencinta musik lama supaya dapat info soal aksesori-aksesori yang lagi dicari,” kata Awan. Karena saat ini udah banyak karya yang digitalisasi, para pencinta musik jadul bisa mengakses lagu-lagu Indonesia favorit mereka lewat iramanusantara.org. Adapun untuk pencinta musik Barat bisa mendengarkannya secara streaming lewat aplikasi Tidal.

Baik iramanusantara.org maupun Tidal punya bitrate yang tinggi, jadi untuk mendengarkannya butuh kuota yang besar. Tapi, hal ini sebanding dengan kualitas suara yang dihasilkan yang persis seperti piringan hitam dan kaset asli.

kami melakukan minisurvei secara daring untuk mengetahui alasan anak muda menyukai musik jadul. Responden adalah laki-laki dan perempuan kelahiran 1995 ke atas. Survei dilakukan pada 26 Agustus 2020 dengan jumlah responden 90 orang, terdiri dari 54,9% perempuan dan 45,1% laki-laki. Berikut hasilnya.

1. ORISINALITAS INSTRUMEN DENGAN KOMPOSISI PAS

Musik jadul belum memakai berbagai perangkat musik modern, jadi suara instrumennya masih asli alias bukan hasil rekayasa. Justru ini jadi daya tarik tersendiri karena dianggap bisa memberi jiwa dalam lagu. Nada musik jadul juga dianggap lebih konsisten dan gak bikin pusing dibanding musik terkini.

2. LIRIK PENUH MAKNA DAN PUITIS

Liriknya bermakna dalam, tulus, dan puitis. Lirik juga terasa ikonik karena menggambarkan realita, tapi juga beragam dan gak membosankan.

3. MUSIKALITAS TINGGI DAN MUSISINYA BERKARAKTER KUAT

Musisi era 1970-an hingga 1990-an dinilai punya musikalitas tinggi dan gaya busana yang ikonik. Dandanan musisi jadul juga jadi panutan. Para musisi jadul disebut responden sebagai real talent.

4. MENGANDUNG KENANGAN

Responden mengatakan suka musik jadul karena mengandung kenangan tersendiri. Mulai dari kenangan dengan orang tua, masa kecil, sampai kisah cinta yang kandas. Musik jadul bisa jadi pengobat rindu yang cukup ampuh dan bisa memberi “kehangatan” buat pendengarnya.

sdnws.

LEAVE A REPLY