Bentrok dengan China, Taiwan Tuntaskan Pembelian Jet Tempur F-16

0
286
Pesawat Jet Tempur F-16.
Pesawat Jet Tempur F-16.

TAIPEI, Nawacita – Taiwan menyelesaikan pembelian jet tempur F-16 dari produsen pesawat Amerika Serikat (AS) Lockheed Martin dalam kesepakatan 10 tahun senilai USD62 miliar. Kesepakatan ini dipastikan akan membuat China murka.

Menggarisbawahi sensitivitas transaksi, Pentagon mengumumkan kontrak tanpa menyebutkan pembeli, tetapi sebuah sumber yang mengetahui masalah tersebut mengkonfirmasi bahwa pembeli tersebut adalah Taiwan seperti dikutip dari AFP, Sabtu (15/8/2020).

Pulau yang memerintah sendiri, dianggap China sebagai bagian dari wilayahnya, tahun lalu memperoleh lampu hijau dari Washington untuk pembelian 66 pesawat tempur F-16 generasi baru, yang akan memungkinkannya untuk memodernisasi pertahanannya.
Baca Juga: China Kecam Pesawat Militer Amerika Terbang di Langit Taiwan

Taiwan sendiri sudah memiliki armada F-16 yang dibeli pada tahun 1992. Kontrak baru, yang menurut Pentagon adalah untuk pesanan pengiriman awal 90 jet, menyediakan pesawat yang lebih modern dengan teknologi dan persenjataan terbaru.
Baca Juga: Beijing: Laut China Selatan Bukan Hawaii nya Amerika

Beijing menegaskan bahwa Taiwan – sebuah pulau berpenduduk 23 juta orang yang telah memerintah sendiri sejak 1949 – adalah bagian dari wilayahnya dan telah berjanji untuk menanggapi dengan paksa jika Taipei secara resmi bergerak menuju deklarasi kemerdekaan.

Washington, yang mengalihkan pengakuan diplomatik dari Taipei ke Beijing pada 1979, tetap menjadi sekutu paling kuat Taiwan dan pemasok senjata utamanya. Kontrak Lockheed Martin datang ketika Beijing menunjukkan otot politiknya di Hong Kong dengan memberlakukan undang-undang keamanan yang luas di pusat bisnis internasional itu, sebuah langkah yang telah menimbulkan kekhawatiran di Taiwan.

Kontrak itu juga terjadi dua hari setelah kunjungan delegasi tingkat tertinggi AS ke Taiwan sejak 1979, memprovokasi kemarahan Beijing. Hubungan antara kedua negara adidaya itu berada di titik didih karena masalah perdagangan hingga masalah militer dan keamanan, hak asasi manusia dan pandemi virus Corona.

sdnws.

LEAVE A REPLY