Pengamat Politik: Perempuan Perlu Jadi Peserta Pilkada Surabaya

0
163

Surabaya, Nawacita– Kontestasi politik hampir di depan mata. Rencananya pada bulan September mendatang, KPU Surabaya mulai membuka pendaftaran pasangan bakal calon (Balon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota untuk Pilkada 2020. Sayangnya nama Balon yang muncul di donminasi oleh gender laki-laki.

Sebut saja dari PDI-P, calon yang santer di blow up adalah pasangan laki-laki. Seperti Whisnu Sakti Buana, Eri Cahyadi, Armuji, sampai Baktiono. Adapun isu Balon yang akan muncul dari perempuan seperti Puti Guntur dan Diyah Katarina saja.

Di sisi lain, nama pendamping Machfud Arifin yang akan diusung 7 partai juga didominasi kaum laki-laki. Adapun perempuan yang ramai dibicarakan adalah Reni Astuti dari PKS dan Siti Anggraeni Hapsari figur dari partai Demokrat. Sedangkan sisanya merupakan gender laki-laki. Seperti Mujiaman selaku Direktur PDAM, Azrul Ananda Presiden Persebaya, Gus Hans, sampai Arief Fathony.

Padahal menurut Ali Sahab, pengamat politik dari Unair mengatakan figur perempuan hendaknya ikut dalam kontestasi Pilkada Surabaya tahun 2020. Sebab perempuan juga memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki dalam kepemimpinan.

“Saya kira perlu. Karena dunia politik bukan hanya dunia laki-laki. Bahkan sebetulnya calon perempuan tidak kalah dengan calon laki-laki dari segi kualitas,” katanya saat dihubungi Nawacita pada Senin 10 Agustus 2020.

Ali sapaan akrabnya, menyayangkan bila tidak ada figur perempuan dalam kontestasi Pilkada 2020 ini. Ia juga mengira, kemungkinan sulitnya perempuan maju dalam Pilkada karena terganjal struktural partai maupun keluarga.

“Hal ini bisa dilihat dulu kemunculan Yulyani anggota DPRD Kota Surabaya dari PKS. Popularitas cukup tapi kendala struktural partai,” terangnya.

Lanjutnya, menurut Ali persaingan antara Gubernur dan Wali Kota Surabaya yang diidentikan ‘saling sikut’ sesama perempuan, bukan menjadi acuan buruknya kepemimpinan perempuan. Seharusnya tensi politik yang demikian harus diturunkan, serta permasalahan rakyat diutamakan.

“Figur perempuan yang cocok menurut saya, yang mempunyai kemampuan leadership. Serta manajemen dan kemampuan enterpreneur,” terangnya.

Senada dengan pengamat politik, Ida Aju Brahmasari ketua Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) Jawa Timur berharap ada sosok perempuan yang bisa tampil dalam Pilkada 2020. Sebab banyak wanita cerdas yang memiliki potensi di Surabaya.

“InsyaAllah tidak ada wanita yang hanya mementingkan dirinya. Tapi masyarakatnya juga pasti dilayani,” tuturnya.

(and)

LEAVE A REPLY