KH. Abd. Tawwab Sesalkan Orasi Mahfudz

0
66

Surabaya, Nawacita – Ketua Forum Kyai Kampung Nusantara (FKK Nusantara) menyesalkan orasi anggota DPRD dalam aksi damai pekerja hiburan umum pada Senin 3 Agustus 2020. Pasalnya anggota DPRD itu berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang seharusnya mempresentasikan dari partai islam.

KH. Abdul Tawwab Hadlory selaku ketua FKK Nusantara mengaku kecewa terhadap aksi yang dilakukan Mahfudz selaku anggota DPRD dari fraksi PKB yang ikut berorasi saat demo pekerja rumah hiburan umum. Ia berujar bahwa tidak elok sebagai anggota fraksi PKB ikut dalam orasi yang membela pekerja rumah hiburan umum dalam menolak Perwali nomor 33 tahun 2020.

“Saya sangat menyesalkan tindakan itu. Seharusnya dia tidak sejauh ini ikut dalam orasi sejauh ini,” ujarnya pada Kamis 6 Agustus 2020.

Menurut pengasuh Ponpes Darus Saadah Nginden Jangkungan ini, Perwali Nomor 33 Tahun 2020 adalah salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya dalam memutus mata rantai Covid-19.

“Keberhasilan Pemerintah Kota Surabaya yang dipimpin oleh Wali Kota Risma cukup dibanggakan. Karena saat ini kenyataannya, Surabaya sudah menuju zona hijau. Jika sebelumnya hitam atau merah pekat,” tandasnya.

Selain ikhtiar dari Wali Kota, lanjutnya, keberhasilan ini termasuk dukungan doa para kiai, para santri dan seluruh elemen masyarakat Surabaya.

“Sehingga Insya Allah Surabaya ini diselamatkan dari bahaya wabah Covid-19. Oleh karena itu, saya atas nama Ketua Umum DPP FKKNu tetap mendukung sepenuhnya terhadap pelaksanaan Perwali Nomor 33 Tahun 2020,” jelasnya.

Tuntutan pekerja hiburan malam umum dinilai sangat kontradiksi dengan situasi dunia maupun negara yang saat ini tengah berduka. Sebab pandemi tidak hanya berdampak pada satu sektor saja.

“Karena yang dipikir itu cuma satu sektor. Ekonomi atau income dari pribadi. Makanya harus merubah mindsetnya tadi. Pantaskah bernyanyi atau bersuka ria ditengah duka nasional bahkan dunia, hanya karena alasan agar bisa bekerja,” ucapnya.

Menurutnya, untuk sementara waktu rumah hiburan umum (RHU) tidak terlalu diperlukan. Sebab di masa pagebluk RHU, bukan menjadi kebutuhan prioritas.

“Kan masih masa perihatin. Kalau tidak merubah mindestnya akan tetap berjalan. Itu kebutuhan primer. Kalau hiburan umum kan tidak termasuk. Tolong kepada hiburan malam untuk merubah mindsetnya,” terangnya.

Islam Mengajarkan Taat Kepada Pemimpin

KH Abd. Tawwab mengimbau agar seluruh masyarakat Bangsa Indonesia, para anggota dewan dan elemen masyarakat Surabaya maupun organisasi lembaga harus Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum. Yakni patuh kepada Allah taat kepada Rasul dan taat kepada pemimpin.

“Kalau dalam pemerintahan masalah politik peraturan kota, kita harus taat kepada Wali Kota Surabaya. Selama tidak mengajak kepada kemaksiatan. Ini bukan main-main. Covid-19 ini nyata. Bukan hanya abal-abal. Sangat berbahaya saat sekarang ini,” ujarnya.

Kedua, taat kepada Ulil amri minkum, antara lain misal masalah kesehatan harus taat pada pakar kesehatan dan masalah agama harus taat pada ulama. “Jangan sekali-sekali dipolitisir keadaan ini. Sehingga apa yang dibuat oleh Pemkot seakan-akan nggak ada benarnya,” ungkap KH Tawwab.

Lanjutnya, Ia meminta anggota DPRD lebih mementingkan atau memfokuskan diri untuk merubah mindset para pekerja rumah hiburan umum. Sehingga bisa tetap bertahan di tengah ekonomi yang tidak stabil.

“Tolong kepada hiburan malam untuk merubah mindsetnya. Orang kaki lima masih berjualan online atau yang lainnya. RHU itu setau saya banyak orang-orang migran. Kok Pemkot malah jadi penanggung bebannya,” pungkasnya.

(and)

LEAVE A REPLY