Ketua LSM Foma Aceh Barat turut Prihatin Atas Penolakan MPTTI di Kluet raya Aceh Selatan

0
1752

Nawacita – Aceh Terkait keluarnya surat penolakan dari berbagai pimpinan dayah atas kegitatan Majelis Pengkajian Tauhit Tasawuf Indonesia (MPTT-I) di wilayah Se-Kluet Raya, ketua LSM Foma Aceh Barat Rezy Syahputra,SH merasa prihatin atas keluarnya surat keputusan tersebut.

Surat yang di tanda tangani oleh beberapa pimpinan dayah tersebut tidak mendasar baik dari segi fatwa MUI ataupun fatwa MPU. Dinilai Rezi, tudingan yang di tujukan kepada MPTT-I tentang penyimpangan tasawuf dan penyelewengan praktik hakikat dan ma’rifat sangatlah keliru.

“Tudingan yang di tujukan kepada MPTT-I tidak lah benar dan sangat tidak mendasar, ajaran MPTT-I secara keseluruhan baik praktik Amaliah atau dalam bentuk pengkajian dan zikir tidak menyimpang dari aqidah Islam baik dari Alquran maupun hadist, pernyataan sikap pimpinan tinggi majelis pengkajian mubahasah Teungku (MPMT) tentang penolakan kehadiran MPTT-I masuk ke Kluet Raya perlu di kaji lebih dalam, sebab atas dasar apa penolakan tersebut dan bagaimana tentang dalil nya “ujar Rezi

Seperti yang di ketahui bersama, MPTT-I merupakan majelis pengkajian tauhid tasawuf yang berlandaskan ahlisunnah waljamaah. kita juga mengetahui Aceh serambi Mekkah dan banyak lahirnya ulama yang sekarang menjadi tengku atau pimpinan pesantren/Dayah diaceh khususnya sampai saat ini dan masyarakat mengetahuinya bahwa ajaran MPTT-I ini juga salah satu anak ulama terkemu diaceh dimana banyak ulama-ulama diaceh berguru dan belajar sama beliau syekh H. Muhammad Muda Wali al- khalidy disini banyak masyarakat awam dilema tentang isu yang dianggap menyimpang/sesat MPTT-I tersebut padahal sebagian masyarakat Aceh menerima dan mengikuti MPTT-I itu karena masyarakat melihat dan mengikuti nya langsung dalam pengkajian tersebut tanpa mendengar isu yang beredar karena masyarakat menganggap lebih baik berzikir dari pada tidak berzikir kalaupun memang ada kesalahpahaman dalam pelaksanaan nya kenapa pihak yang terkait tidak ingin bermusyawarah untuk meluruskan isu yang beredar luas dimasyarakat padahal dalam hadits disampaikan :

ﺍﺧْﺘِﻠَﺎﻑُ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟﻠﻨﺎﺱ

“ Perbedaan dalam Umatku adalah rahmat bagi manusia”
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (Al hujarat ayat 6).

Laporan : Rezi Syahputra

LEAVE A REPLY