Dewan Kota dan Pendidikan Komentari Fenomena Siswa Belajar Daring Di Warkop

0
290

Surabaya, Nawacita – Belakangan ini muncul fenomena siswa sekolah yang terpaksa melakukan pembelajaran daring di warung kopi (Warkop). Fenomena itu dilakukan siswa sekolah agar mendapatkan fasilitas internet gratis. Hal ini menjadi sorotan anggota DPRD Surabaya dan anggota dewan pendidikan Jawa Timur.

Ajeng Wira Wati wakil ketua Komisi D DPRD Surabaya mengaku khawatir dengan fenomena ini. Pasalnya siswa yang berkeliaran di Warkop untuk mencari internet menjadi rentan terpapar Covid-19.

“Kondisi Surabaya masih zona merah, sesuai SE kemendikbud no 15 tahun 2020, BDR dilakukan bisa luring dan daring.
pembelajaran yang dibuat harus dipastikan bisa dijangkau oleh semua murid, jangan malah memposisikan anak di tempat beresiko terpapar covid-19, seperti halnya berkerumun di warkop,” ujarnya pada Selasa 21 Juli 2020.

Politisi dari partai Gerindra itu melanjutkan seharusnya Pemerintah Kota mulai memfasilitasi setiap RW untuk memberikan pelayanan internet gratis. Sehingga anak-anak yang diinstruksikan oleh Menteri Pendidikan untuk belajar dari rumah (BDR), benar-benar bisa terlaksana.

“Secepatnya merealisasikan rencana dengan penambahan bandwidth internet, repeater, router, komputer dan printer di balai RW karena pembelajaran sudah dimulai minggu ini. konsep yang diarahkan disdik bisa mencermati sebaran kondisi siswa yang terkendala BDR dan kepala sekolah bisa memanfaatkan Dana Bos untuk pembiayaan kuota paket internet guru dan siswa karena sudah diberikan diskresi dari kemendikbud” jelasnya.

Sementara itu, Moch Isa Ansori anggota dewan pendidikan Jawa Timur (Jatim) menganggap Pemerintah mengabaikan pendidikan. Ia mengatakan, Pemerintah hanya fokus pada kesehatan dan peneyalamatan ekonomi saja.

“Lalu pemerintah tidak fokus ke pendidikan, pemerintah lebih fokus ke kesehatan dan pemulihan ekonomi. Sehingga persoalan pendidikan terabaikan” ungkapnya.

Lanjutnya, dari fenomena pelajar ke Warkop untuk belajar, menunjukan bahwa seharusnya pembelajaran daring harus dibarengi dengan adanya ketersediaan fasilitas. Sehingga siswa sekolah benar-benar bisa melaksanakan pembelajaran daring.

“Ini merupakan bentuk partisipasi masyarakat. Namun permasalahannya di warung kopi tidak ada pendampingan bahkan pengaruh orang dewasa lebih banyak,” terangnya.

Oleh sebab itu, menurutnya ongkos sosial menjadi lebih mahal ketimbang ongkos kesehatannya. Ia berharap hal ini bisa diantisipasi oleh Pemerintah Kota Surabaya.

(and)

LEAVE A REPLY