Sektor Pariwisata Rugi Rp 85 T, PHRI: Ada 1 Stimulus Malah jadi Beban

0
157

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani. (Jawa Pos Photo)”

Jakarta, Nawacita – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebut, kerugian sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19 mencapai puluhan triliun. Adapun usaha yang masuk dalam sektor ini antara lain perhotelan, restoran, maskapai penerbangan, hingga operator tur wisata.

Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani menaksir, hingga April saja, kerugian untuk sektor hotel sudah mencapai Rp 30 triliun, sedangkan restoran mencapai Rp 40 triliun. Kemudian, maskapai penerbangan rugi USD 812 juta atau setara Rp 11,4 triliun, sedangkan operator tur rugi sekitar Rp 4 triliun.

“Stimulus yang diberikan relatif kurang efektif,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI, Selasa (14/7).

Hariyadi mengatakan, salah satu stimulus yang dianggap tidak dirasakan manfaatnya adalah stimulus fiskal PPh 21. Sebab, pada kenyataan di lapangan saat ini, mayoritas pekerja menerima kurang dari gaji normal mereka.

“PPh 21 ini akan efektif kalau pekerjanya itu menerima gaji Rp 200 juta per tahun atau Rp 16,67 juta per bulan. Tapi kan kenyataannya banyak karyawan yang dirumahkan atau dicutikan di luar tanggungan perusahaan,” tuturnya.

Begitu pula juga dengan stimulus PPh 22 yang tidak banyak memberi manfaat karena ditujukan untuk impor. Lalu, stimulus PPh 25 juga dinilai tidak membantu. Sebab potongan pajaknya tidak tepat lantaran banyak perusahaan merugi.

“PPh 25 ini untuk sektor pariwisata itu mayoritas mungkin 90 persen itu pasti mendapat kerugian,” katanya.

Menurut Hariyadi, dengan melihat kondisi yang terjadi, semestinya PPh 25 dibebaskan. Pasalnya, toh banyak pelaku di sektor ini yang merugi.

Namun, berdasarkan PMK 44/2020, PPh 25 hanya didiskon 30 persen. Artinya, perusahaan masih tetap membayar 70 persennya.

“Padahal pada akhir tahun itu sudah pasti rugi, jadi bukannya kita ditolong malah jadi beban,” katanya.

JP

LEAVE A REPLY