DPD RI Dukung Jokowi Lakukan Opsi pembatasan skala besar dan Darurat Sipil

0
350

JAKARTA, Nawacita – Dalam kondisi penyebaran virus yang semakin meluas dan masif, anggota DPD RI Ahmad Nawardi menilai bahwa Penyemprotan disinfektan bagi kendaraan dan pasar-pasar serta tempat-tempat umum kurang efektif. Terutama Jika migrasi manusia masih berlangsung.

“Penyemprotan itu hanya salah satu cara membunuh virus yang menempel di benda mati, tapi kalau masih ada kerumunan masyarakat maka penyemprotan kurang efektif,” sebut Nawardi, Senin (30/3/2020).

Menurut Politisi asal Jawa Timur ini, untuk menghentikan penyebaran virus, pemerintah harus menghentikan pergerakan manusianya. Kalau manusianya masih bergerak, saling bertemu dan silaturrohim satu sama lain, otomatis virus juga bergerak dan berpindah dari tubuh satu ke tubuh yang lainnya. “Pemerintah perlu segera mengevaluasi himbauan physical distancing atau jaga jarak yang sudah hampir satu bulan diberlakukan,” sebut Ketua DPP HKTI Jatim ini.

Lanjut Nawardi, jika tidak efektif dan virus semakin merajalela menular jauh maka perlu ada penanganan yang lebih tegas dan terukur. Misalnya karantina wilayah. Lokalisir lokasi-lokasi tempat tinggal orang positif corona, PDP dan ODP. Agar virus tidak semakin menyebar.

Ditambahkan Nawardi, saat ini sudah banyak pemerintah daerah yang menginginkan karantina wilayah. Hanya mereka masih menunggu keputusan pusat. Tapi jika penyebaran semakin meluas tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah bertindak sendiri-sendiri seperti yang sudah dilakukan Kota Tegal, Papua, Tasikmalaya dan beberapa daerah lain. Jangan sampai pemerintah kabupaten/kota bertindak sendiri tanpa koordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Perlu ada solusi yang lebih keras dan tegas.

“Saya mendukung opsi kemungkinan memberlakukan pembatasan skala besar Bahkan kemungkinan darurat sipil yang disampaikan presiden Jokowi jika himbauan physical distancing dan himbauan tidak mudik kurang efektif menghentikan migrasi manusia dan menghentikan penyebaran virus,” pungkasnya.

rgo/cko

LEAVE A REPLY