PKB Kritik Jokowi Soal Menag dari Militer: Perang Ideologi Tak Perlu Jenderal

0
207
Menag Fachrul Razi.

Jakarta, Nawacita – Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Luluk Nur Hamidah memberikan catatan terkait 100 hari kerja Kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi). Luluk mengkritik Menteri Agama yang dipilih dari militer.

Awalnya Luluk berbicara soal Jokowi mendapat ekspektasi yang tinggi untuk maju di periode kedua. Namun, ekspektasi tersebut menjadi tidak pas karena memilih menteri berdasarkan kompromi yang bersifat pragmatis.

“Memilih orang, menempatkan orang dengan visinya beliau (Jokowi) inginya Indonesia meroket yang jadi tidak pas. Yang jadi pertanyaan kompromi apa dan dengan siapa kompromi itu dilakukan, kalau kemudian model pemerintahan kita kompromistis dan basisnya kompromi ini pragmatism,” kata Luluk saat diskusi di hotel Ibis Tamarin, Jakarta Pusat, Sabtu (8/2/2020).

Luluk mengatakan salah satu menteri yang salah dipilih yakni Menteri Agama Facrhul Razi. Dia mempertanyakan keputusan Jokowi memilih Menteri Agama dari basis militer.

“Misal termasuk pilihan Menteri Agama, saya kira itu bukan hanya nahdliyin tapi Bangsa Indonesia juga kaget-kaget, atas dasar apa sih militer harus jadi Menteri Agama, ini eranya era baru, Pak Jokowi juga orang sipil, masa kini, kekinian, milenial tapi kok milih Menag aja harus militer,” ucapnya.

Luluk menyebut Fachrul tidak segarang yang diperkenalkan di awal. Menurutnya, Fachrul juga terlalu banyak berkompromi dengan organisasi yang jelas dilarang oleh Pemerintah.

“Kita mau perang sama siapa? kalau konteksnya perang ideologi nggak perlu Jenderal itu, karena nggak jelas soalnya, dulu semangat okay (hentikan) HTI, tapi nyatanya kompromi lagi, kita itu selalu main-main terus di atas ombak, dan itu berbahaya,” ujar Luluk.

“Catatan saya paling utama Menteri Agama lah, ada aspirasi dan basis yang jelas punya pandangan Menag ini mungkin ini salah satu Pak Jokowi tidak menempatkan orang di tempat yang tepat,” sambungnya.

.dtk

 

LEAVE A REPLY