Impor Masih Jadi PR Besar BUMN Pangan

0
162
Anggota Komisi VI DPR RI, Mohamad Toha

Jakarta, Nawacita – Anggota Komisi VI DPR RI, Mohamad Toha mengatakan bahwa badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak di sektor pangan, hingga saat ini masih memiliki pekerjaan rumah (PR) besar, yakni mengurangi jumlah impor pangan dari luar negeri.

Hal itu disampaikan Toha saat rapat kerja (raker) dengan Perum Bulog, PT Berdikari, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PT Pertani, PT Syang Hang Sri, PT Garam, dan PT Bhanda Ghara Reksa (BGR) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

“Sesuai perintah Pak Jokowi, kita harus kurangi impor pangan. Ya memang lucu, sumber daya kita melimpah tapi impor. PR BUMN Pangan ini bagaimana caranya bisa kurangi impor, lebih bagus lagi kalau bisa swasembada,” kata Toha dalam rapat tersebut.

Diketahui, beragam kebutuhan pangan Indonesia belum mampu tercukupi dari dalam negeri. Seperti beras, jagung, bawang putih, gula, garam, daging sapi, bahkan ikan.

Hal tersebut selain sangat ironis mengingat melimpahnya sumber daya alam Indonesia, juga rentan bagi ketahanan dan kedaulatan pangan.

“Karenanya, BUMN Pangan itu sebetulnya tulang punggung bagi ketahanan pangan Indonesia,” papar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Fungsi BUMN Pangan sebagai tulang punggung ketahanan pangan inilah, kata menurut anggota DPR RI dari Dapil Solo Raya ini, yang harus menjadi perhatian bersama DPR dan Pemerintah.

“Banyak dari BUMN Pangan ini belum menghasilkan laba, bahkan ada yang rugi. Meski begitu, DPR dan Pemerintah harus membantu mereka yang punya visi bagus untuk mengurangi impor,” ujarnya

Menurutnya, meraih keuntungan atau laba bagi BUMN itu memang wajib. Akan tetapi, Toha mengingatkan agar tidak melupakan fungsi sosial BUMN Pangan, yakni sebagai penyangga ketahanan pangan dan penyedia kebutuhan pangan bagi masyarakat di dalam negeri.

“Ekstrimnya, BUMN rugi pun tak masalah, kalau rakyat tercukupi kebutuhan pangannya dari dalam negeri. Sekaligus, petani, peternak, petambak, nelayan tentu akan sejahtera ketika impor berkurang,” tukas dia.

RSA

LEAVE A REPLY