Dua Petinggi AirAsia Group Mundur, Lantaran Dugaan Suap

0
168
Maskapai Penerbangan AirAsia.
Maskapai Penerbangan AirAsia.

JAKARTA, Nawacita – CEO AirAsia Group Tony Fernandes dan Chairman & CEO Tune Group Kamarudin Meranun menyatakan mundur sementara dari jabatannya seiring dengan pengusutan dugaan pemberian suap dari Airbus sebesar US$50 juta soal pemesanan pesawat.

Berdasarkan kutipan laman The Straits Times, Selasa (4/2/2020), dua petinggi AirAsia Group tersebut akan mundur minimal selama dua bulan ke depan. AirAsia diduga menerima uang suap untuk memenangkan penawaran pemesanan pesawat dari Airbus.

Maskapai berkategori layanan minimum (low cost carrier/LCC) ini menuturkan telah membentuk komite khusus yang terdiri dari anggota non-eksekutif dewan AirAsia untuk meninjau dugaan dan mengambil tindakan yang diperlukan.

Baca Juga: Komisioner KPU Wahyu Setiawan Ditahan Terkait Dugaan Suap

“Fernandes, salah satu eksekutif industri penerbangan paling terkenal, dan Kamarudin akan tetap menjadi penasihat, bagaimanapun mengingat keadaan ekonomi sulit saat ini yang dihadapi industri penerbangan,” tulis perusahaan.

Eksekutif senior perusahaan, Tharumalingam Kanagalingam, akan bertindak sebagai CEO. Keputusan ini akan segera diberlakukan.Dalam pernyataan bersama, Fernandes dan Kamarudin membantah tuduhan melakukan kesalahan atau penyalahgunaan wewenang sebagai direktur AirAsia.

Baca Juga: KPK Janji Kembangkan Kasus Suap KPU RI

“Kami tidak akan merugikan perusahaan yang telah kami bangun sepanjang hidup untuk membangun status global mereka saat ini,” kata mereka. AirAsia mengatakan tidak pernah membuat keputusan pembelian yang didasarkan pada sokongan Airbus. Pihak maskapai akan bersikap kooperatif dengan Malaysian Anti-Corruption Commission (MACC) yang sedang menyelidiki kasus.

Berdasarkan laman Bloomberg, MACC sedang menyelidiki dugaan kasus korupsi yang menyeret AirAsia Group, sebagaimana termuat dalam catatan penyelesaian suap Airbus SE senilai US$4 miliar.

Dalam dokumen yang memuat kasus Airbus menyatakan pabrikan pesawat tersebut membayar US$50 juta dalam bentuk sponsor kepada sebuah tim olahraga yang dimiliki bersama oleh dua eksekutif AirAsia. Dana sponsor tersebut diduga sebagai hadiah atas pesanan 180 unit pesawat, yang kemudian diubah menjadi 135 unit. Para eksekutif tersebut tidak disebutkan namanya.

bsnws.

LEAVE A REPLY