Sri Mulyani dan Susi Tolak Diberi Minuman Berwadah Plastik

0
278
susi-pudjiastuti-dan-sri-mulyani
susi-pudjiastuti-dan-sri-mulyani

Jakarta Nawacita – Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjadi narasumber dalam acara ‘Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital’ di Istora Senayan, Jakarta. Ada momen unik saat keduanya berbicara dalam acara itu.

Kedua menteri perempuan Jokowi menolak disuguhi minuman berwadah botol plastik dalam acara tersebut.

Baca Juga : Pengusaha Geser ke Platform Digital, Sri Mulyani Tetap Kejar Pajaknya

Momen itu dimulai ketika Sri Mulyani berbicara tentang anggaran negara desa. Disela-sela itu ada beberapa orang menyajikan air mineral dalam botol plastik. Sontak perhatian Sri Mulyani beralih pada botol tersebut.

“Ini botol plastik, aku kurang suka,” ucap Sri Mulyani seraya menunjuk botol yang disuguhkan. Reaksi Sri itu disambut gemuruh dan tepuk tangan para peserta yang hadir acara tersebut, Minggu (18/8).

Saat gemuruh terjadi di ruangan tersebut, Susi langsung menyela dan berbicara tentang sampah plastik di dunia.

Baca Juga : Tersangka Pelempar Rumah Menteri Susi Diduga Sakit Jiwa

“Kurangi pemakaian bahan plastik sekali pakai. Sampah di laut kita kedua terbesar di dunia,” ujar Susi sambil disambut tepuk tangan meriah dari para peserta.

“Bulan lalu saya demo di Istana, sekarang saya demo anak-anak muda,” lanjut Susi. Gemuruh dan tawa semakin menjadi di ruangan tersebut.

Mendengar reaksi Sri Mulyani dan Susi itu, beberapa orang langsung menarik botol yang ada di meja. Panitia lalu mengganti dengan gelas kaca.

Sri Mulyani terlihat membawa tumbler miliknya. Terlihat juga ada tumbler di depan Susi.

Setelah tidak ada lagi penggunaan botol plastik, Sri kemudian melanjutkan pembicaraanya tentang anggaran desa.

“Saya kasih contoh lagi tahun depan kita akan keluarkan Rp 72 triliun untuk 75 ribu desa di seluruh Indonesia, setiap desa itu akan dapat hampir Rp 1 miliar ada yang sampai Rp 5 miliar,” ujar Sri.

Sri juga bicara soal peluang adanya digitalisasi di sektor keuangan, sehingga dia bisa memantau penggunaan yang sesuai dengan peruntukan dan aturan.

“Bisa bayangkan 75 ribu desa kalau mereka di-connect-kan itu lahan untuk aplikasi kan,” ucapnya.

ln

LEAVE A REPLY