Kenali Kopi Bersama Petani dan Sekolah Lapang Kopi

0
327
Kopi Bersama Petani dengan Sekolah Lapang Kopi
Kopi Bersama Petani dengan Sekolah Lapang Kopi
Tegal Nawacita  –  Komoditas kopi sebagai komoditas yang selalu hangat diperbincangkan, berbagai upaya dilakukan oleh petani maupun perusahaan untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas hasil produksi kopi. Salah satu yang berperan penting pada penurunan kualitas dan kuantitas hasil produksi kopi adalah penyakit dan hama.
Hal ini mendorong mahasiswa IPB University yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata-Tematik (KKN-T) 2019 dan Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal melaksanakan Sekolah Lapang Penyakit dan Hama Tanaman (SLPHT) Kopi di Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa 
Kepala Klinik Pertanian Kabupaten Tegal, Darmawan Edy, SHut menyampaikan bahwa sasaran kegiatan ini adalah para petani kopi di Desa Sigedong yang menanam kopi di bawah tegakan pinus milik Perhutani maupun di lahan milik sendiri. SLPHT Kopi memiliki target untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
“Harapan kami dengan adanya SLPHT Kopi yakni petani dapat mengembangkan secara mandiri teknologi pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang ramah lingkungan. Dalam kegiatan ini, petani dibekali keterampilan berupa perbanyakan agen hayati sebagai pengendali OPT yang ramah lingkungan, karena ke depan Klinik Pertanian akan terus melakukan pendampingan dan bimbingan teknis kepada petani peserta SLPHT walaupun SLPHT sudah selesai karena gangguan OPT tentunya akan terus berkembang,” terang Darmawan.
Adapun kegiatan SLPHT Kopi yang diselenggarakan di Desa Sigedong ini terdiri dari tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama dilakukan kontrak penyetujuan antara pihak Klinik Pertanian dan petani setempat serta sekilas materi mengenai hama dan penyakit. Pertemuan kedua, dilakukan praktik pengenalan hama dan penyakit pada tanaman serta teori pengendaliannya. Pertemuan ketiga, dilakukan penjelasan mengenai teknik pengendalian hama dan penyakit menggunakan agens hayati yaitu Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR).
Sementara itu, pengelola perkebunan kopi, Gusairi menyampaikan bahwa sebagai anggota kelompok tani (poktan) dan petani kopi khususnya, Gusairi merasa terbantu dengan adanya SLPHT Kopi sekaligus diutusnya mahasiswa KKN IPB University di Desa Sigedong.
“Petani yang sebelumnya sering bertanya ke toko obat pertanian, sekarang menjadi sadar peran dan fungsi Klinik Pertanian dan mendapatkan ilmu lebih terkait budidaya kopi, hama-penyakit kopi dan penggunaan sekaligus perbanyakan agens hayati,” ungkapnya.
SLPHT akan dilaksanakan setiap tahun dengan beragam komoditas tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan yang ada di Kabupaten Tegal. Selain itu layanan konsultasi kesehatan tanaman, pendampingan dan bimbingan teknis kepada petani akan terus dilaksanakan oleh klinik pertanian.
kmprn

LEAVE A REPLY