Kementan Minta Peta Okupasi Pertanian Menjadi Acuan SMK

0
193

JAKARTA Nawacita — Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Peta Okupasi agar kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja pertanian sesuai dengan apa yang dibutuhkan dunia industri saat ini. Sekretaris Badan Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementan, Prihasto Setyanto, mengatakan, Peta Okupasi tersebut diharapkan menjadi acuan bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Dunia usaha dan industri yang butuh tenaga kerja akan melihat peta ini, dan ini juga akan menjadi acuan dunia pendidikan, termasuk juga SMK untuk menyusun kurikulum yang sesuai,” kata Prihasto kepada wartawan usai Peluncuran Peta Okupasi Setor Pertanian di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat (26/4) malam.

Ia mengatakan, jangan sampai, para peserta didik yang sudah dilatih, khususnya dalam bidang ilmu pertanian, justru tidak dibutuhkan industri. Sebaliknya, apa yang dibutuhkan industri, tidak dilatih oleh lembaga pendidikan. Karenanya, Peta Okupasi bukan hanya bermanfaat bagi Kementerian Pertanian, namun juga lembaga pendidikan seperti SMK termasuk perguruan tinggi.

“Ini menjadi fondasi bagi mereka yang menyusun kurikulum sesuai yang dibutuhkan perusahaan,” katanya menegaskan.

Menurut dia, Peta Okupasi baru dapat diluncurkan saat ini karena diperlukan persiapan yang matang dalam penyusunan. Sebab, Peta Okupasi akan menjadi acuan dalam waktu jangka panjang sehingga sebisa mungkin tetap selaran dengan kemajuan industri pertanian.

Dalam Peta Okupasi tersebut, setidaknya terdapat kualifikasi dan kompetensi untuk 449 jabatan pekerjaan sektor pertanian. Adapun Peta Okupasi mulai disusun sejak September 2018 dengan masukan dari para kalangan dunia usaha dan industri pertanian.

Prihasto mengatakan, peta tersebut diharapkan dapat mempercepat penyelesaian Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sehingga link and match bisa diterapkan dengan baik. Pihaknya mengharapkan agar Peta Okupasi dapat menjawab kegalauan dunia usaha saat ini akan ketersediaan tenaga kerja berkualitas.

dapun output terakhir yang diharapkan dari adanya Peta Okupasi yakni para peserta didik nantinya baik lulusan SMK maupun perguruan tinggi, selain memiliki ijazah, juga memiliki sertifikat tenaga kerja. Tentunya, setelah melalui proses pendidikan yang sesuai dengan arah Peta Okupasi. “Jadi ada nilai plus, selain punya ijazah juga ada sertifikasi,” ujar dia.

Di satu sisi, Prihasto mengatakan, keberadaan Peta Okupasi bukan justru menimbulkan situasi tumpang tindih dengan lembaga sertifikasi profesi (LSP) yang saat ini sudah ada. Sebaliknya, Peta Okupasi pun dapat memperkuat LSP dalam melakukan proses sertifikasi. “Kita menyusun ini bukan hanya untuk waktu singkat,” kata dia.

rp

LEAVE A REPLY