Ma’ruf Amin Tuntaskan Safari di Jawa Tengah dan DIY

0
195
Calon Wakil Presiden nomor urut 01 KH. Ma'ruf Amin tuntas melakukan safari di wilayah Jawa Tengah dan DIY.
Calon Wakil Presiden nomor urut 01 KH. Ma'ruf Amin tuntas melakukan safari di wilayah Jawa Tengah dan DIY.

JAKARTA, Nawacita – Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin tuntas melakukan safari di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selama tiga hari Kiai Ma’ruf berkeliling di dua provinsi tersebut.

Abah –sapaan akrab Kiai Ma’ruf– melakukan safari dengan didampingi sang istri Wury Estu Handayani dan anak perempuannya Siti Mamduhah. Di Jawa Tengah, Kiai Ma’ruf menyambangi Purworejo, Magelang, Wonosobo, dan Temanggung.

Di Yogyakarta, Abah bersilaturahmi dengan para kiai sepuh dan bertegur sapa secara langsung dengan masyarakat Bantul serta Sleman. Dari perjalanan selama tiga hari ini, Kiai Ma’ruf optimis elektabilitas di dua provinsi tersebut mencapai 70 persen.

“Semangat masyarakat, bahkan dari massa besar, dari tokoh-tokoh berbagai komunitas, sampai malam pun juga ada. Jadi makin yakin memang target yang ingin kita capai itu insya Allah bisa 70 persen,” ujar Kiai Ma’ruf ketika berada di Hotel Tentrem, DIY, Kamis 28 Maret 2019 malam.

Guna mendongkrak elektabilitas pasangan calon presiden nomor urut 01, ucap Kiai Ma’ruf, ia akan bergandengan dengan sejumlah ulama dari Nahdlatul Ulama (NU). Menurut Abah, para ulama NU memiliki ciri khas masing-masing. Di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY, ada kiai “nyentrik” KH Ali Sodikhin atau Gus Ali Gondrong yang dikenal dengan “kelompok mafia sholawat”.

“Di komunitas kita itu ada tokoh yang punya ciri khas sendiri-sendiri. Di berbagai daerah seperti di sini (DIY) ada Ali Gondrong. Misalnya ada lagi di beberapa daerah seperti Gus Ahmad Muwafiq. Kemudian di Karawang Habib Musthofa al Jufri. Itu juga punya daya tarik jamaah yang besar,” tutur Kiai Ma’ruf.

Ia mengatakan, nama-nama tersebut memiliki komunitas masing-masing. Mereka memiliki ciri khas dan jamaah yang banyak. Pembawaan mereka di tengah masyarakat juga diterima karena bertausiah dengan menyesuaikan kultur di daerah masing-masing.

“Jadi mereka membawa dengan cara irama yang kemudian cocok dengan kultur yang ada di masyarakat,” imbuh Kiai Ma’ruf.

oknws.

LEAVE A REPLY