Pengamat: Pemilu Serentak Bisa Turunkan Partisipasi Masyarakat

0
284
Jakarta, Nawacita – Pemilu 2019 sulit ditebak partisipasinya oleh masyarakat. Karena menjadi kurang diminati sebab digelarnya Pilpres dan Pileg secara serentak.
Pakar politik Universitas Indonesia Lely Arrianie mengatakan ada pergeseran nilai demokrasi pada pemilu saat ini. Kalau kita mengenal teori Budaya Politik Menurut Almond dan Verba, bahwa budaya politik parokial, kaula sama partisipatif.
“Semula model-model budaya politik  yang Prokial itu hanya dimiliki oleh pemimpin-pemimpin tradisional. Tetapi  melihat pergeseran dari Pemilu ke pemilu terutama di media sosial, budaya politik parokial dimana masyarakatnya itu kemudian menerima saja apa yang dikatakan pemimpin,” paparnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (25/2/2019).
Lalu mereka, lanjut Lely tidak ingin ikut serta. Sekarang tidak ada lagi,  mereka seolah ingin ikut serta, tetapi itu seolah di  media sosial.
begitu juga  Kaula, jadi mereka tidak ingin lagi mendebat apa yang dikatakan pemerintah dan sebagainya, termasuk posisi sekarang dua-duanya ada di media sosial. Mereka mendapat pemerintah mereka juga mendapat oposisi,  pemerintah dibilang kerjanya nggak becus, oposisi dibilang nggak becus programnya kerana tak menawarkan apa-apa.
“Jadi dua-duanya berkolaborasi,  kemudian diakomodasi oleh undang-undang pemilihan umum sama undang-undang Pilkada, model budaya seperti itu kemudian bergeser, berbeda dengan di Papua yang mungkin  masih menggunakan sistem noken, kalau memang pemimpin yang seolah-oleh pemimpinnnya suaranya  diberikan kepada pemimpin itu,” bebernya lagi.
Berbeda situasinya dengan tingkat level yang berbeda sekarang ini. Terutama pileg dan Pilpres yang digagas serentak ini. (Moh. Ainul yaqin)

LEAVE A REPLY