Kubu Prabowo-Sandi Beberkan Penyebab Defisit Neraca Dagang

0
226
prabowo sandi
prabowo sandi

JAKARTA Nawacita – Defisit neraca perdagangan yang terus terpuruk dianggap karena Indonesia saat ini tidak memiliki ekspor andalan. Alhasil, pemerintah tidak bisa menahan defisit.

“Pertama, defisit itu utamanya karena ekspor kita melemah, kita tidak punya ekspor andalan, orde baru kita punya komoditas ekspor andalan dan dikawal oleh pemerintah dan itu berhasil (seperti) playwood, tekstil kita jalan. (Sekarang) Ini enggak ada,” ujar Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier dalam diskusi bertajuk Nestapa Ekonomi Indonesia 2018 di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Dia melanjutkan, kebijakan ekonomi untuk menaikkan nilai ekspor serta valuta asing tidak dijalankan dengan baik oleh pemerintah saat ini. Akibatnya, desifit neraca perdagangan itu terus terpuruk.

“Paket kebijakan ekonomi yang sudah bertumpuk itu, itu satu meningkatkan ekspor, satu valuta asing, cuma ini semua di atas kertas, diumumin sendiri gak jalan,” ujar Direktur Konsolidasi Nasional Koalisi Pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno itu.

Selain itu, kebijakan penerapan B20 atau pencampuran 20% minyak sawit ke solar dianggap tidak berdampak besar. Bahkan, sektor Migas dinilai sebagai biang kerok defisit dagang saat ini.

Adapun impor Migas per November masih bengkak dan menyumbang defisit US$ 1,5 miliar. Kemudian, sepanjang Januari-November, tercatat defisit sudah mencapai US$ 12,15 miliar atau setara Rp176 triliun.

“Untuk mengurangi neraca perdagangan makanya ada B20, itu gak jalan, angka itu tidak pengaruh B20, kalau dikasih B20 rusak mesin kita, itu memang untuk bantu (harga) sawit yang jatuh,” papar anggota Dewan Pembina Partai Gerindra ini.

Di samping itu, tindakan koruptif dari pejabat juga dianggap ikut menghambat kebijakan ekonomi pemerintah. “Karena penyakit korupsi, menegakan pemerataan tidak bisa, melakukan perbaikan ekspor tidak bisa, impor ditekan tidak bisa,” pungkasnya.

sn

LEAVE A REPLY