Kata KPK Soal Sadapan Idrus Minta USD 2,5 Juta untuk Jadi Ketum Golkar

0
252
Idrus Marham
Idrus Marham

Jakarta,Nawacita – KPK memastikan bukti yang kuat berkaitan dengan penyidikan Idrus Marham dalam pusaran perkara suap terkait PLTU Riau-1. Selain itu, menurut KPK, fakta-fakta persidangan serta kesaksian Idrus dalam sidang terdakwa lain semakin meyakinkan penyidikan.

“Penyidikan untuk IM (Idrus Marham) masih berjalan. Kami tentu sudah punya bukti yang meyakinkan untuk memproses ke penyidikan kemarin dan semakin kuat dalam rangkaian proses penyidikan ini,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Selasa (6/11/2018).

“Silakan saja bantah, KPK sering mendapat bantahan seperti itu. Tapi kami akan ajukan bukti yang relevan nanti di persidangan,” imbuh Febri.

Idrus memang sempat menjadi saksi dalam sidang lanjutan terdakwa Johanes B Kotjo pada Kamis 1 November lalu. Kotjo didakwa memberikan suap pada Idrus dan Eni Maulani Saragih yang merupakan politikus Partai Golkar serta anggota DPR Komisi VII.

Dalam persidangan tersebut, jaksa KPK memutarkan hasil sadapan antara Idrus dengan Eni. Berikut potongan komunikasi dalam hasil sadapan yang diperdengarkan dalam sidang yang digelar terbuka untuk umum tersebut:

Idrus: Tapi Kotjo diberitahu dulu ini kita butuh operasional
Eni: Bang, Senin sampai Rabu jangan ganggu dulu, Bang. Ini kan saya besok asistensi dengan PLN. Senin Selasa Rabu udah jangan dulu, Bang
Idrus: Ah iya
Eni: Karena dia saya ingetin untuk suruh tanda tangan. Begitu tanda tangan ini seminggu kemudian udah, Bang. Minimal ya tiga puluh empat puluh juga dia punyalah. Saya tinggal kemarin saya cuma di .. Mungkin abang paling dikasih satu juta
Idrus: Oh jangan, bilangin Kotjo itu jangan
Eni: Nah makanya makanya kita bilang, ‘Tarik dulu dong besok kita ganti,’ gitu lho Bang dengan yang lain
Idrus: Bilangin bilangin ngambil itu jangan, ngambil lagi bilangin Kotjo
Eni: Nanti Bang nanti
Idrus: Bilang aja Bang Idrus itu karena dia lagi ini, dia minta sendiri 2,5 gitu, bilang aja
Eni: Oke oke nanti saya ngomong
Idrus: Bilang aja minta 2,5 sendiri karena dia ini lho ini operasional

Jaksa kemudian menanyakan pada Idrus apakah benar komunikasi itu benar antara dirinya dengan Eni. Idrus mengamininya meski lupa kapan terjadinya. Jaksa lalu bertanya tentang Munaslub Partai Golkar.

“Masalah Munaslub karena tadi ada pembicaraan karena begitu Pak Setya Novanto sudah masuk di situ, masuk di praperadilan, sudah sebagian besar dari elite-elite Golkar memproyeksikan ditolak,” ujar Idrus.

“Tapi begini saya ingin cerita sedikit tentang sikap saya. Sebagian besar kader Golkar ini, memang menginginkan saya,” imbuh Idrus.

“Jadi?” tanya jaksa.

“Jadi ketum (Golkar),” jawab Idrus.

Idrus lalu menceritakan bila banyak kader-kader Golkar yang mendorongnya sebagai Ketua Umum Partai Golkar jauh sebelum Novanto menjabat. Namun Idrus mengaku ingin bersaing secara kualitas.

“Saya ingin perdebatan kualitas, ini sejarahnya lalu uang itu susah,” ujar Idrus.

“Uang untuk?” tanya jaksa lagi.

“Perdebatan persaingan uang itu tidak memberikan manfaat kepada partai, tapi perdebatan kualitas yang kita inginkan. Lalu kemudian elite (Golkar) lagi cerita, ‘Bang, secerdas-cerdasnya orang kecerdasan itu juga perlu biaya perlu operasional’. Lalu saya bilang pada Bu eni dan teman-teman ‘Oke, tetapi saya tidak ingin tersandera oleh siapa pun kalau saya menjadi ketum’. Nah setelah itu Eni mengambil inisiatif memang. Lalu kemudian Eni menemui temannya, Pak Kotjo. Itulah alur cerita,” ucap Idrus.

Namun Idrus mengaku tidak tahu apabila setelah itu Eni menemui Kotjo. Idrus mengaku tahu tentang itu belakangan.

“Setelah selesai pembicaraan, dengan konsisten saya dari awal, meski pun 500 turun 200,” kata Idrus yang kemudian dipotong jaksa, “Itu maksudnya apa?” tanya jaksa.

“Itu kan tadi ada biaya, biasanya 500 miliar,” ujar Idrus.

Idrus mengaku tidak ingin ada persaingan uang dalam pemilihan ketua umum Golkar karena ingin bersaing dengan kualitas. Namun menurut Idrus dorongan dari kader-kader yang disebutnya itu tidak jadi karena Novanto memenangi praperadilan.

“Tidak ada tindak lanjut kenapa karena pada saat itu Setya Novanto menang, memenangkan praperadilan itu,” kata Idrus.

Namun jaksa tidak berhenti begitu saja. Jaksa masih menanyakan tentang USD 2,5 juta yang terdengar dalam salinan rekaman sadapan itu.

“Ini maksudnya 2,5?” tanya jaksa.

“Jadi maksudnya begini, saya kan sudah bilang jangan saya, tetapi karena ini masih mendesak, ini satu-satu, udahlah sekalian saja dua atau tiga juta empat juta kenapa tanggung satu,” jawab Idrus.

“Dua setengah ini maksudnya?” tanya jaksa lagi.

“Dua setengah juta,” jawab Idrus.

“USD?” tanya jaksa.

“Ya pastilah saya nggak tahu itulah pembicaraan Eni. Setiap Eni yang mengajukan saya nggak setuju lalu saya bilang sekalianlah. Kita larang jangan, masih berusaha, karena itu saya bilang ini sekalian,” kata Idrus.

dtk

LEAVE A REPLY