Harga Beras Eceran Agustus Tercatat Turun Tipis 0,01 Persen

0
522
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta, Nawacita — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras eceran Agustus 2018 menurun tipis 0,01 persen secara bulanan, mengikuti penurunan harga beras di tingkat grosir yang menurun 0,31 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan harga beras sudah terjadi dari tingkat penggilingan.

Menurut data BPS, harga beras kualitas premium turun 0,65 persen dari Rp9,520 per kilogram (kg) menjadi Rp9.458 per kg. Harga beras kualitas medium pada Agustus kemarin berada di angka Rp9.172 per kg, atau turun 0,28 persen dari posisi Juli Rp9.198 per kg.


Terakhir, harga beras kualitas rendah turun 0,42 persen dari Rp9.015 per kg menjadi Rp8.977 per kg.

“Jadi memang harga beras di penggilingan ini tercatat turun dibanding bulan kemarin untuk semua jenis kualitas beras,” jelas Suhariyanto, Senin (3/8).

Menariknya, harga yang menurun tipis ini justru tak berdampak banyak pada deflasi bulan Agustus. Komponen bahan makanan memang mengalami deflasi 1,1 persen, namun itu justru didorong oleh penurunan harga telur ayam ras dan bawang merah dengan andil deflasi masing-masing 0,24 persen dan 0,06 persen.

“Harga beras tidak berkontribusi apapun pada deflasi. Apalagi inflasi,” papar dia.

Meski harga beras terpantau turun, namun harga penjualan Gabah Kering Panen (GKP) justru meningkat. BPS mencatat GKP di tingkat petani naik 3,05 persen dari Rp4.633 per kg menjadi Rp4.744 per kg. Sementara itu, GKP di tingkat penggilingan juga naik 3,27 persen pada periode yang sama.

Suhariyanto mengakui kenaikan harga GKP yang diikuti penurunan harga beras ini merupakan anomali. Ia menduga, anomali ini disebabkan karena gabah yang digiling merupakan stok dari panen bulan-bulan sebelumnya, sehingga kenaikan harga GKP tidak berkorelasi langsung dengan penurunan harga beras.

“Namun harga GKP tinggi ini menunjukkan bahwa panen sudah menurun. Kalau dilihat kenaikan harga gabah, catatan BPS menunjukkan di Lampung sampai 7 persen, Jateng 8,7 persen, Banten 14,09 persen, ini yang harus diwaspadai,” imbuh dia.

Kenaikan GKP ini, lanjut Suhariyanto, juga berimbas pada perbaikan Nilai Tukar Petani (NTP) untuk sektor tanaman pangan yang juga naik 1,28 persen. Meski demikian, pemerintah tak boleh berpangku tangan. Masa tanam padi pada Oktober mendatang disertai stok yang berkurang bisa jadi bikin harga beras melonjak lagi.

“Pemerintah harus waspada menjelang masa tanam ini. Tapi saya yakin pemerintah sudah mengantisipasinya,” pungkas Suhariyanto.

cnn

LEAVE A REPLY