KPK Terus Dalami Aliran Dana Proyek KTP-El

0
435
Mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi
Mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi

JAKARTA, Nawacita — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami aliran dana dalam kasus korupsi KTP-elektronik (KTP-el). Pada Selasa (3/7), penyidik KPK menjadwalkan dua orang saksi untuk tersangka Irvanto Hendra Pambudi dan Made Oka Masagung.

“Ada dua saksi yang diagendakan hari ini Taufiq Effendi dan Mulyadi untuk tersangka IHP dan MOM. Untuk Mulyadi, Anggota DPR-RI merupakan penjadwalan ulanh dari jadwal kemarin,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah dalam pesan singkatnya, Selasa (3/7).

Saat ini, kedua saksi tersebut telah selesai menjalani pemeriksaan. Usai diperiksa, Taufiq  mengungkapkan dicecar pertanyaan apakah kenal dengan kedua tersangka. Kepada penyidik, Mantan Menteri PAN RB itu mengaku tidak pernah mengenal ataupun bertemu dengan kedua tersangka.

Ia pun menegaskan tidak pernah ikut dalam pembahasan proyek yang merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun tersebut. Namun, ia tidak memungkiri adanya pembahasan anggaran di Komisi II.

“Tidak pernah (ikut pembahasan). (Pembahasan di Komisi II) Pasti ada,” ucapnya singkat.

Sementara, politikus Partai Demokrat, Mulyadi yang juga diperiksa oleh penyidik mengaku bingung dipanggil oleh KPK. Mulyadi mengaku dirinya tidak pernah di Komisi II ataupun di Badan Anggaran (Banggar).

“Makanya saya bertanya-tanya. Tadi dikonfirmasi dibilang mungkin pak Mulyadi ini tahu tentang masalah pak Marzuki. Itu aja sebetulnya. Saya bilang tidak pernah dengar karena saya selama periode di DPR yang lalu itu saya di komisi V bidang infrastruktur. Dan tidak pernah di Badan Anggaran,” tuturnya.

Irvanto telah ditetapkan sebagai tersangka bersama Made Oka Masagung, pengusaha sekaligus rekan Novanto, pada 28 Februari 2018 lalu. Irvanto diduga sejak awal mengikuti proses pengadaan KTP-el dengan perusahaannya, yaitu PT Murakabi Sejahtera.

Irvanto juga diduga ikut beberapa kali pertemuan di ruko Fatmawati bersama tim penyedia barang proyek KTP-el. Ia juga diduga telah mengetahui ada permintaan fee sebesar lima persen untuk mempermudah proses pengurusan anggaran KTP-el.

Irvanto diduga menerima total 3,4 juta dolar AS pada periode 19 Januari-19 Februari 2012. Uang diperuntukkan kepada Novanto secara berlapis dan melewati sejumlah negara.

Made Oka adalah pemilih PT Delta Energy, perusahaan SVP dalam bidang investment company di Singapura. Ia diduga menjadi perusahaan penampung dana.

Made Oka melalui kedua perusahaannya diduga menerima total 3,8 juta dolar AS sebagai peruntukan kepada Novanto yang terdiri atas 1,8 juta dolar AS. Penerimaan melalui perusahaan OEM Investment Pte Ltd dari Biomorf Mauritius dan melalui rekening PT Delta Energy sebesar 2 juta dolar AS.

Made Oka diduga menjadi perantara uang suap untuk anggota DPR sebesar lima persen dari proyek KTP-el. Keduanya disangkakan pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

repblk

LEAVE A REPLY