Jatim Segera Miliki Pengolah Limbah B3

0
364

Surabaya.Nawacita.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) akan membentuk instalasi pengelolaan limbah terpadu di Dawarblandong, Mojokerto untuk menangani masalah limbah LimbahBahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Jatim. Upaya ini sangat mendesak, mengingat potensi limbahnya sangat besar.

Menurut Wakil Gubernur Jatim SaifullahYusuf, data yang ada, sudah 200 ribu lebih perusahaan yang beroperasi dan sekitar 170 juta ton lebih limba B3 yang sudah tercatat pada pemerintah.

“Kalau fasilitasnya selesai, maka masalah-masalah limbah B3 di Jatim bisa teratasi secara bertahap. Ini jadi perhatiandan prioritas kita untuk menangani,” kata Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf kepada wartawan usai Seminar Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Hotel Mercure, Surabaya, Rabu (13/12/2017).

Menurutnya, pembentukan instalasi pengelolaan limbah terpadu di Mojokerto, saat ini masih dalam proses, lahannya sedang disiapkan dan izin dari pusat sudah turun. Diharapkan pembangunan fisik bisa segera dimulai.

Pihaknya berharap tahun 2019, instalasi pengelolaan limbah terpadu ini bisa beroperasi. Fungsi instalasi ini untuk mengelola, memanfaatkan, lenfil dan sekaligus pengurukan. Selama ini, di PT PRIA hanya pengelolaan dan pemanfaatan saja.Nawacota.co

“Ada 24 kabupaten/kota yang cukup besar memproduksi limbah B3. Antara lain, Surabaya, Malang, Jember dan Kediri.Selama ini, limbah B3 perusahaan di daerah-daerah tersebut dibuang ke Cileungsi, Bogor yang merupakan satu-satunya pengelolaan limbah B3 terpadu,” ungkapnya.Namun, lanjutnya, tidak semua limbah B3 dari perusahaan itu, dikirim ke Cilengsi. Dari catatan yang dimiliki, limbah B3 yang dikirim ke Cilengsi baru 40 persen. “Sisanya 60 persen limbah B3 berhenti kemana, saya tidak tahu,” kelitnya.

“Jadi, instalasi pengelolaan limbah terpadu ini kebutuhan mendesak. Data dari KLH saat ini potensinya di Jatim itu 400 juta ton, sementara yang tercatat baru 170 juta ton, 150 juta ton limbah diantaranya dari Paiton. Padahal di Jatim, ada 800 ribuperusahaan, tapi yang tercatat perusahaan yang melaporkan baru sedikit,” ujarnya.

“Jika pengolah B3 tidak segera beroperasi, akan jadi masalah besar. Nanti bisa mencemari sungai, sumur dan mencemari lingkungan. Tidak bisa dibayangkan jika air minum yang dikonsumsi masyarakat tercemar limbah B3,” katanya.(Dny)

LEAVE A REPLY