Kemenko PMK Hadiri Pertemuan SEARO WHO

0
449

Jakarta,Nawacita.co (18/09)— Sebagai upaya menghadapi dampak negatif perubahan iklim global, SEARO WHO (South-East Asia Regional Office World Health Organization) menyelenggarakan pertemuan antarMenteri Kesehatan negara-negara anggota pada tanggal 6 hingga 10 September 2017 lalu di Paradise Islands Resort, Maladewa. SEARO merupakan kantor regional WHO untuk wilayah Selatan dan Timur Asia dengan jumlah anggota 11 negara yaitu Indonesia, Myanmar, Timor-Leste, Thailand, India, Maladewa, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, Bhutan, dan Republik Rakyat Demokratik Korea.

Dalam pertemuan ini, Staf Ahli Menko PMK bidang Kependudukan, Sonny Harry B Harmadi ditugaskan oleh Menko PMK, Puan Maharani, untuk mengikuti pertemuan SEARO WHO secara aktif di Maladewa. Hasil pertemuan selanjutnya dilaporkan kepada Menko PMK sebagai masukan bagi pelaksanaan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian program-program pemerintah di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan.

Pada tanggal 7 September 2017, kegiatan Ministerial Roundtable dihadiri 11 negara delegasi, dan setiap Menteri Kesehatan didampingi oleh dua orang staf. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Kesehatan, Prof. Nila F Moeloek yang didampingi oleh Staf Khusus Menkes RI,  Diah Saminarsih; dan Staf Ahli Menko PMK RI , Sonny Harry B Harmadi. Selain para Menteri Kesehatan, turut hadir Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus; dan Direktur Regional SEARO WHO, Poonam Khetrapal Singh. Pertemuan Ministerial Roundtable dipimpin oleh Menkes Maldives, Abdulla Nazim Ibrahim selaku Tuan Rumah.

Agenda di hari selanjutnya berisi rapat teknis yang dihadiri oleh pejabat eselon 1 dan 2 masing-masing delegasi. Pada pertemuan ini, delegasi Indonesia menjelaskan bahwa pemerintah telah melaksanakan berbagai program dan kebijakan bidang kesehatan, termasuk Strategi Adaptasi Sektor Kesehatan terhadap Dampak Perubahan Iklim berupa Permenkes nomor 1018 tahun 2011. Beberapa topik pembahasan teknis lainnya mencakup hepatitis, tuberkulosis, akses terhadap obat-obatan, kontrol terhadap penyebab penyakit, keamanan berkendara, pencapaian SDGs, jaminan kesehatan universal, pengentasan polio, pemberantasan campak dan rubella, dan lain sebagainya.

Pertemuan selama empat hari itu intinya membahas respons sektor kesehatan yang dibutuhkan untuk menghadapi ancaman perubahan iklim global. Secara khusus, pertemuan bertujuan untuk menghasilkan kesepakatan bersama tentang pengembangan dan implementasi sistem kesehatan nasional guna menghadapi perubahan iklim; mengidentifikasi peluang dan kesenjangan masing-masing negara dalam rangka memperkuat sistem ketahanan kesehatan untuk menghadapi perubahan iklim; dan mengidentifikasi peran WHO dan mitra pembangunan lainnya untuk mendukung pembangunan kesehatan di 11 negara anggota SEARO. Pertemuan Menteri Kesehatan SEARO WHO berhasil menyepakati beberapa hal yang tertuang dalam deklarasi tentang pentingnya upaya bersama untuk meningkatkan ketahanan sistem kesehatan mengatasi dampak perubahan iklim. Deklarasi itu dikenal dengan Male Declaration on Building Health Systems Resilience to Climate Change.

(sumber: SAM Kemenko PMK) / dny

 

LEAVE A REPLY