Mendag: Manusia Berkarakter Kunci untuk Kemajuan Bangsa Indonesia

0
375
Dalam kuliah umumnya di hadapan sekitar 8.000 mahasiswa baru, Menteri Perdagangan antara lain mengatakan bahwa di tengah kemajuan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan, kita harus mampu menjadi manusia yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu manusia yang berkarakter. Selain karakter, lanjut Mendag, untuk menjadi unggul kita harus mampu berpikir kritis untuk memecahkan masalah kompleks. Untuk itu, menjadi pribadi yang unggul tidak ada yang instan, tetapi harus dipelajari tidak hanya di bangku perkuliahan tetapi juga di luar bangku kuliah.
Jakarta,Nawacita — 28/08/2017 Manusia berkarakter adalah kunci kemajuan Indonesia. Untuk itu mahasiswa sebagaiaset dan generasi penerus bangsa harus memanfaatkan masa mudi yang berharga untuk menjadi manusia yang lebih baik melalui proses transformasi di perguruan
tinggi.
Pesan ini disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat memberikan kuliah umum dihadapan lebih dari 8.000 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia, hari ini,Senin(28/8) di Bandung, Jawa Barat.“Mereka yang berhasil adalah manusia
yang berkarakter, adaptif, dan tetap memegang teguh nilai-nilai yang terus berlaku sampai sekarang.
Di tengah kemajuan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan, kita harus mampu menjadi manusia yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu menjadi manusia berkarakter,”tegas Mendag.Pembukaan Masa Orientasi danKuliah Umum Tahun 2017 UPI mengusung tema“Semarai Asa,Integritas Jiwa Gebrakan Pendidikan Indonesia”.Enggaryang juga merupakan alumni universitastersebut,(waktu itu masih bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP Bandung) mengungkapkan bahwa pembentukan karakter dapat dicapai dengan visi, kreativitas, kegigihan,disiplin, serta hubungan interpersonal.
Selain karakter,lanjut Mendag,untuk menjadi unggul kita harus mampu berpikir kritis untuk
memecahkanmasalah kompleks;mengembangkan kreativitas, komunikasi dan kolaborasi,menghidupkan rasa ingin tahu;selalu ingin belajar ,gigih dan disiplin,berwawasan sosial dan budaya,serta berinisiatif dan berjiwa kepemimpinan.“Untuk menjadi pribadi yang unggul tidakada yang instan, harus dipelajari,tidak hanya di bangku perkuliahan tetapi jugadiluar bangkukuliah,”tandas Mendag.Enggar menceritakan sekilas perjalanan hidupnya.
Selepas menjadi aktivis mahasiswa, ia masuk keperusahaan swasta nasional. Di perusahaan swasta nasional tersebut, Enggar memulai dari”tukang bawa map”, sampai jadi direktur, punya perusahaan sendiri, dan akhirnya masuk ke politik.Pada kuliah umum tersebut, Mendag berpesan agar mahasiswa dapat menggunakan kesempatanmengenyam perkuliahan dengan sebaik-baiknya karena hanya 2,5% dari penduduk Indonesia yang mendapatkan kesempatan ini Berdasarkan data BPS, pada 2015 ada sekitar 6,6 juta mahasiswa.
Jika difokuskan lagike Perguruan Tinggi Negeri, hanya sekitar 241 ribu orang diterima kuliah setiap tahunnya.
“Kuliah masih merupakan suatu “kemewahan yangsaat ini hanya dinikmati segelintir penduduk Indonesia. Kesempatan initidak hanya memberikan peluang untuk lebih maju dan sejahtera,tetapi juga tuntutan untuk lebih bertanggung jawab kepada masyarakat. Ada tanggung jawab yang lebih besar yang di emban generasi muda, yaitu menjaga dan membangun Indonesia,”tegas Enggar.Indonesia, lanjut Mendag,kini sedang di ambang era
emasnya
 Indonesia sudah menjadi bagian dari G-20 dan memimpin negara-negara di Samudera Hindia (IORA) yang terbentang dari Australia sampai Afrika Selatan, dan sebentar lagi menikmati dividen demografi.“Semua ini bisa menjadi momentum ledakan kemajuan
ketika rakyat yang siap berdaya berkolaborasi dengan pemerintah yang punya visi, kemampuan manajemen, dan mendengarkan aspirasi.
Indonesia juga punya momentum besar untuk maju karena Presiden Joko Widodo
membawa model kepemimpinan baru yang menunjukkan bahwa pemimpin itu tidak sakral dan dekat dengan rakyat,”tandasnya.Diakhir presentasinya,Mendag kembali berpesan dan meminta komitmenagar para mahasiswa bisa memberikan sumbangsih lebih banyak lagibagi bangsa dan negara.“Jangan sia-siakan masaemas usia muda dan masa emas Indonesia di masa depan.Caranya dengan belajar, bekerja keras,disiplin, membuka cakrawala, dan menjadibagian-bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri agar bisa semakin maju dan memberi lebih banyak sumbangsih bagi negeri ini,” ujar Mendag
humas kemendag / deny

LEAVE A REPLY