Kisah Artidjo Alkostar dan Tulisan “Tidak Menerima Tamu yang Berperkara”

0
443
Hakim Agung Artidjo Alkostar

JAKARTA, NAWACITA — Hakim Agung Artidjo Alkostar mengaku pernah merasa tersinggung oleh sikap dua orang pengusaha yang diduga hendak menyuap dirinya.

Hal itu diungkapkan Artidjo dalam program acara Satu Meja bertajuk “Palu Godam Hakim Artidjo” yang disiarkan Kompas TV, Senin (12/9/2016) malam.

Artidjo mengatakan, kejadian tersebut dialaminya saat kariernya menjadi hakim MA belum lama dimulai.

“Dulu, saya masuk Mahkamah Agung tahun 2000, ada dua pengusaha masuk (bilang), ‘Ya Pak Artidjo yang lain sudah, tinggal Pak Artidjo saja (yang belum)’,” ujar Artidjo menirukan dua pengusaha yang diceritakannya itu.

Artidjo mengaku seketika itu pula ia menjawab dengan tegas, “Anda lancang sekali.”

Artidjo melanjutkan, kejadian itulah yang kemudian mendasari dirinya untuk membuat tulisan “Tidak Menerima Tamu yang Berperkara” yang dipasang di depan ruang kerjanya di Mahkamah Agung.

“Ya, waktu itu saya tempelkan di kamar (perkara pidana), di lantai tiga Mahkamah Agung,” kata dia.

Adanya tulisan tersebut, kata Artidjo, sempat mendapat respons negatif di lingkungan MA. Tindakan Artidjo tersebut dianggap menghalangi kunjungan ke MA, termasuk kunjungan keluarga.

“Tampaknya kolega saya kurang berkenan,” kata dia.

Menurut Artidjo, persoalan kunjungan keluarga dan pihak lain, terutama yang beperkara, perlu dibedakan.

Meski banyak resistensi, Artidjo tetap tak melepaskan tulisan tersebut. Hal itu, lanjut dia, perlu dilakukan agar kamar pidana yang menjadi beban tugas dan kewenangannya tetap bersih dari upaya suap.

“Saya kira kalau ke Mahkamah Agung harus bisa dibedakan, itu bukan masalah keluarga, itu saya kira perlu diatur tentang tamu-tamu yang tidak berkepentingan tentang keluarga,” ujar alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta tersebut.

Artidjo adalah hakim agung yang ditakuti para terdakwa kasus korupsi. Dia kerap menambah hukuman bagi pelaku kejahatan yang masuk kategori luar biasa itu di tingkat kasasi.

Sejumlah kasus korupsi yang melibatkan pejabat dan politisi pernah ditangani Artidjo. Sebut saja Luthfi Hasan Ishaaq, Angelina Sondakh, Akil Mochtar, hingga Anas Urbaningrum. Terakhir kasus pengacara Otto Cornelis Kaligis.

Semua nama itu, oleh Artidjo, dijatuhi hukuman penjara lebih lama ketimbang putusan di pengadilan tingkat pertama.

Bahkan ada sejumlah terdakwa yang mencabut permohonan kasasinya ketika tahu bahwa Artidjo masuk dalam majelis hakim yang akan menangani perkara.

SUMBER : KOMPAS.COM

LEAVE A REPLY