Dr. Nugroho SBM, Pemerintah Harus Jaga Kepastian Usaha

0
514

SEMARANG,NAWACITA–Ekonom Dr. Nugroho SBM minta pemerintah tetap menjaga kepastian usaha, agar investasi yang sudah terealisasi seperti pembangunan pabrik semen di Rembang, tidak terhenti di tengah jalan akibat penolakan sebagian warga.

“Kalau segala perizinan sudah dipenuhi dan pembangunan pabrik sudah berjalan jauh, sebaiknya diteruskan. Pada tahapan ini, pemerintah harus berpihak pada investor,” katanya di Semarang, Senin.

Nugroho yang juga Ketua Laboratorium Pengembangan Ekonomi Regional dan Perkotaan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang itu mengingatkan banyak kerugian bila pembangunan pabrik semen di Rembang itu dibatalkan.

Selain meningkatkan ketidakpastian usaha di Jawa Tengah, katanya, peluang kerja bagi ribuan orang juga bakal terbuang. Lebih jauh dari itu, kehadiran pabrik semen juga bakal memberikan efek berantai (multiplier effects) yang panjang bagi perekonomian warga.

Ia juga mengkhawatirkan bila produksi semen dalam negeri stagnan di satu sisi, sementara permintaan bahan bangunan utaman ini terus bertambah, kekurangan tersebut justru akan dimasuki oleh semen merek dari luar.

Menurut dia, pembangunan infratstruktur yang saat ini tengah digiatkan membutuhkan banyak pasokan semen sehingga bila pabrik-pabrik semen di dalam negeri kekurangan produksi maka celah itu akan diisi merek semen dari luar.

Saat ini sejumlah semen merek luar negeri juga sudah memasuki pasar Kota Semarang dan sekitarnya, antara lain, Conch.

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang pada April 2015 menolak gugatan Walhi dan sejumlah warga Rembang atas izin lingkungan pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Gunem, Rembang, karena gugatannya kedaluwarsa atau melebihi batas waktu 90 hari sejak izin lingkungan diumumkan ke publik. Penggugat kemudian banding.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar minta semua pihak untuk menunggu hasil dari proses hukum yang sedang berjalan.

Sebelumnya, 17 warga Pegunungan Kendeng penolak pembangunan pabrik semen diterima oleh Presiden Joko Widodo di Jakarta. Mereka menyampaikan penolakan pembangunan pabrik semen.

Hasil pertemuan tersebut, antara lain, perlunya dibuat daya dukung Pegunungan Kendeng melalui kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) serta mengkaji efek pembangunan dan operasi pabrik semen di wilayah tersebut.

Sekretaris Perusahaan Agung Wiharto menyebutkan pembangunan pabrik semen di Rembang sudah mencapai 92 persen dan akhir 2016 sudah mulai uji coba produksi.

Ia menegaskan pembangunan pabrik semen Rembang dengan nilai investasi Rp3,7 triliun tersebut sudah memenuhi semua persyaratan perizinan sehingga tidak ada alasan untuk menghentikan pembangunan pabrik semen berkapasitas tiga juta ton/tahun itu.

Agung menegaskan tidak semua warga di sekitar lokasi pabrik di Rembang menolak kehadiran pabrik semen, apalagi selama ini banyak tenaga kerja lokal terserap selama proses pembangunan berjalan.

sumber :antara jateng

LEAVE A REPLY