Pembangunan Industri Nasional Butuh 4.000 T

0
785

BANDUNG, NAWACITA -Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan, untuk membangun industri Indonesia yang tertuang dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 membutuhkan investasi Rp 4.150 triliun. “Kuncinya berada pada investasi. Diharapkan investasi yang bisa masuk Rp 4.150 triliun, kurang lebih 400 bilion Dollar AS,” kata dia dalam orasi ilmiahnya dalam Sidang Senat Terbuka Institut Teknologi Bandung memperingati 96 tahun pendidikan teknik di Indonesia, di Bandung, Sabtu, 20 Agustus 2016.

Airlangga mengatakan, dokumen RIPIN itu merupakan amanat Undang-Undang Perindustrian Nomor 3 tahun 2014. Dia mengaku, ini kali pertama memaparkan rencana induk itu secara utuh di depan sidang senat terbuka ITB. “Dalam RIPIN tersebut kami, Kementerian Perindustrian memiliki sasaran kuantitas pembangunan secara gradual sampai tahun 2035,” kata dia.

Sasaran tersebut diantaranya sektor industri non migas tumbuh 10,5 persen, kontribusi industri non migas terhadap PDB sebesar 30 persen, kontribusi produk ekspor terhadap total ekspor sebesar 78,4 persen meningkat dari posisi tahun 2015 sebesar 70 persen. Selanjutnya penyerapan tenaga kerja pada 2035 nanti menembus 29,2 juta orang atau dua kali lipat dari serapan saat ini 15 juta orang, serta 40 persen sebaran industri berada di luar Jawa. “Saat ini sebaran industri di luar Jawa 27 persen. Kami ingin meningkatkan menjadi 40 persen,” kata Airlangga.

Airlangga mengatakan, sejak krisis moneter 1998 pertumbuhan industri non migas cenderung di bawah pertumbuhan ekonomi. “Pada semester 1 tahun 2016 pertumbuhan industri non migas hanya mencapai 4,54 persen,” kata dia.

Peran sektor industri non migas terhadap PDB tertinggi pada 2008-2009 yakni hampir 30 persen. RIPIN ini sedikitnya mengembalikan kontribusi non migas terahdap PDB kembali ke angka 30 persen. “Walaupun asumsi waktu ini diterbitkan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. Tentu kita melihat bagaimana kondisi perekonomian saat ini di dunia global di mana pertumbuhan lebih kecil sehingga Indonesia harus mematok pertumbuhan sebesar 5,3 persen, mungkin akan terus sampai 2017 nanti,” kata dia.

Menurut Airlangga, dokumen RIPIN membagi rencana pembangunan industri nasional dalam tiga tahap. Tahap pertama 2015-2019 dengan fokus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. “Ekonomi dekade 10 tahun terakhir yaitu ekonomi dengan batu bara, kelapa sawit, dan komoditi lainnya. Pada saat siklus komoditi turun seperti hari ini, inilah kesempatan mengoreksi konsep pembangunan ke depan dengan mengutamakan kemampuan sumber daya manusia, mengutamakan kemampuan sektor manufaktur yang bisa mengerek jumlah tenaga kerja,” kata dia.

Airlangga mencontohkan, pada tahap ini pemerintah sedang mendorong hilirisasi industri berbasi gas dan batu bara, mineral logam, serta agro. “Pada tahapan penguatan struktur indsutri ini, Kementerian Perindustrian akan melihat industri yang masih dalam tanda petik bolong, apakah di hulu, di tengah, atau di hilir sehingga dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, penguatan sektor industri itu sendiri, peningkatan nilai tambah, serta penyebaran industri ke seluruh wilayah NKRI,” kata dia.
Menurut Airlangga, hilirisasi industri itu diharapkan mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi. “Dampaknya pada penyerapan tenaga kerja, mengurangi tingkat kemiskinan, meningkatkan cadangan devisa melalui penerimaan devisa ekspor, penghematan devisa impor. Dalam jangka menengah dan panjang diharapkan mampu mengurangi defisit perdagangan sehingga struktur ekonomi makro kita lebih stabil,” kata dia.

Airlangga mengatakan, sejumlah rencana hilirisasi industri sudah disiapkan 2017-2020. “Antara lain mendorong industri berbasis amonia dan metanol di Bintuni, industri berbasis batu bara di Sumatera Selatan, industri berbasis amonia metanol di Kalimantan Timur, dan jangka menengah nanti kita lihat hasil dari gas Masela,” kata dia.

Selanjutnya industri mineral logam yakni industri berbasis biji besi di Kalimantan, serta industri berbasis pasir besi di Jogjakarta. Di sektor agro diantaranya industri CPO dan turunannya, industri green diesel, pengolahan kakao, perikanan, serta industri benang karet. “Itu adalah beberapa hal yang diprioritaskan oleh kementerian,” kata Airlangga.

Pada RIPIN tahap selanjutnya, pada 2020-2024 fokus pada keunggulan kompetitif dan berwawasan lingkungan. Lalu periode 2025-2035 menuju negara industri yang tangguh yang bercirikan struktur industri nasional yang kuat dan dalam, berdaya saing tinggi, serta berbasis riset informasi dan teknologi yang kuat. “Inovasi ini harus kita dorong dengan industrinya agar inovasi yang dilakukan perguruan tinggi bisa diserap industri. Kementerian perindustrian akan mendorong itu dimana industri harus terikat dengan pusat riset dan teknologi, plus mengembangkan usaha IKM,” kata Airlangga.

Rektor ITB Kadarsah Suryadi mengatakan, perguruan tinggi harus berkolaborasi dengan industri dengan dukungan pemerintah. Riset yang dikerjakan perguruan tinggi misalnya, ketika hendak masuk fase produksi harus bekerjasama dengan industri. “Industri yang punya market, industri yang punya akses ke lembaga keuangan. Jadi industri ini yang diharapkan ada proporsinya untuk dana riset. Standar dunia itu dana riset perguruan tinggi itu hanya 2 persen, industri 60 persen, dan pemerintah sekarang sudah mulai adalah 30 persennya,” kata dia, Sabtu, 20 Agustus 2016.

Kadarsah mencontohkan, Kementerian Perindustrian mendanai Pusat Pengambangan Industri di kampusnya, lalau Kementeiran Riset dan Pendidikan Tinggi mendanai kegiatan Pusat Unggulan Iptek khusus pada riset yang sudah siap diserap oleh industri. Sejumlah riset ITB yang sudah diserap industri diantaranya telepon genggam teknolgi 4G, produk katalis kimia untuk mendongkrak produksi kilang hingga 200 persen, teknoloig Enchance Oil Recovery untuk sumur minyak yang sudah kering, hingga teknologi pesawat tanpa awak. “Kita punya 49 inovasi unggulan tahun lalu, dan tahun ini ada 37 unggulan inovasi yang siap di industrikan,” kata dia.

Sumber : tempo.co

LEAVE A REPLY