Pakde Karwo Tolak Harga Rokok Rp 50rb

0
2410
Pakde Karwo, Gubernur tidak pernah absen merokok.
SURABAYA, NAWACITA  – Rencana pemerintah mengkaji ulang dan melakukan penyesuaian tarif cukai rokok untuk memenuhi quota penerimaan pajak serta untuk mengurangi jumlah perokok dinegara ini dianggap tidak efektif bahkan bisa menjadi blunder. Apalagi sampai menaikkan harga satu bungkus rokok dengan harga Rp 50 ribu. Penolakan pun terus mengalir.
 
Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengaku tidak setuju dengan kenaikan harga rokok hampir dua kali lipat. Sebab hal itu tidak otomatis bisa mengurangi jumlah perokok khususnya pada anak-anak. Sebaiknya, jika rokok menjadi mahal industri rokok pasti terdampak bukan hanya pada jumlah karyawannya yang berkurang tapi juga terhadap nasib petani tembakau.
Pejabat yang akrab disapa Pakde Karwo ini menilai kebijakan tersebut bukan solusi dalam mengatasi persoalan pembatasan rokok. Banyak hal yang akan terjadi bila kebijakan ini dilakukan.
 
“Mudah-mudahan pemerintah daerah diajak bicara, sebab penghasil cukai rokok terbesar itu berasal dari daerah. Saya hanya tahu rencana kenaikan harga rokok dari baca  koran,” terang Soekarwo, Sabtu (20/8/2016).
 
Menurut Pakde, fungsi pemerintah daerah diajak bicara itu karena lebih pada pertimbangan sosiologis. Terlebih di Jatim terdapat 6,1 juta orang yang hidupnya bergantung pada industri rokok mulai dari  hilir hingga muara.
 
Ditambahkan Pakde Karwo, pemungutan berupa pajak dan cukai itu memiliki fungsi dua hal yaitu pengaturan dan pendapatan. Makanya ada pajak minuman beralkohol, ada pajak anjing gila dan lain sebagainya itu berfungsi untuk pengaturan. Sedangkan kalau menaikkan cukai rokok dengan harapan agar orang tidak merokok karena harganya menjadi mahal tentunya itu tidak bisa secara otomatif. 
 
“Kalau tujuannya agar orang tidak merokok, ya silahkan WHO menutup pabrik-pabrik rokok besar di Amerika (Philip Moris) dan di Eropa, jangan hanya di Indonesia saja,” tegas mantan Sekdaprov Jatim ini. 
 
Pakde mengkritik tujuan menaikkan harga rokok, juga untuk mengurangi anak-anak merokok merupakan  kebijakkan yang kurang tepat. Pasalnya, untuk melarang anak-anak rokok adalah tugas dan fungsi dari para orang tua. 
 
“Bukan lantas menaikan harga rokok bisa mencegah anak-anak untuk tidak merokok. Itu ada fungsi orang tuanya,” sindir mantan ketua umum PA GMNI ini.
 
Berdasarkan data, lanjut Pakde Karwo sumbangsih pendapatan dari cukai rokok asal Jatim ke pemerintah pusat itu mencapai Rp100 triliun lebih per tahun. 
Bila dinaikkan harga rokok bukan jaminan aka nada setoran pajak yang lebih besar. “Justru yang dikawatirkan banyak industry rokok gulung tikar yang imbasnya akan berdampak pada munculnya persoalan baru yakni angka pengangguran bertambah, dan petani tembakau bisa kehilangan pendapatan,” jelas Gubernur dua periode ini. (arbil)

 

LEAVE A REPLY