Kisah Bulan Ramadan Mahasiswa Indonesia di Jepang

top banner

Jakarta,nawacita- Mahasiswa Muslim Indonesia di kota Kumamoto, Jepang, berkumpul setiap malam bulan Ramadan, berbagi makanan dan canda, lalu beribadah bersama. Tidak hanya mahasiswa Indonesia, acara itu dihadiri oleh warga perantauan dari berbagai negara, mempererat kebersamaan umat Islam di Kumamoto.

“Saat berbuka puasa, kami dan seluruh warga negara asing yang Muslim selalu dalam kebersamaan di saat buka puasa, saat piket bersih-bersih usai berbuka, saat shalat wajib berjamaah, mau pun saat tarawih di Masjid Kumamoto Islamic Center,” kata Risnandar, mahasiswa Indonesia di Kumamoto University, Jumat (10/6),Tapi saat ini hampir setiap hari makanan untuk iftar [buka puasa] disediakan oleh komunitas Muslim Pakistan, karena mereka sangat senang menyediakannya,” ujar pria 34 tahun ini.

Tidak hanya warga Muslim, acara berbuka puasa bersama juga mengundang mahasiswa Jepang yang non-Muslim. Dalam budaya Jepang, dalam acara makan-makan biasanya membayar masing-masing alias “betsu-betsu”, namun tidak demikian dengan iftar.

“Kita tidak demikian [bayar masing-masing] sebagai Muslim, justru ini menjadi wahana syiar Islam, dan Islam itu sendiri kompak, damai dan menenteramkan di mana pun berada. Orang Jepang ikut senang bisa menikmati makanan dari berbagai negara Islam secara gratis,” lanjut mahasiswa fakultas ilmu komputer dan teknik elektro ini.Puasa tahun ini di Jepang jatuh pada musim panas yang berlangsung sekitar 15 jam dengan suhu udara antara 22-28 derajat Celcius.

Kumamoto pada April lalu diguncang gempa lebih dari 6 skala Richter, membuat mahasiswa Indonesia mengungsi. Risnandar mengatakan saat ini beberapa gempa kecil masih sering terjadi di kota selatan Jepang tersebut, namun kebersamaan saat Ramadan menghapuskan ketakutan dan trauma pada bencana itu.

Masyarakat Kumamoto sendiri sudah mengetahui dan menghormati mahasiswa yang berpuasa. Misalnya saat acara pesta minum teh atau “nomikai” di kampus, mahasiswa Jepang sudah tahu bahwa umat Muslim tidak bisa ikut serta karena sedang berpuasa.

“Kita yg beragama Islam tidak bisa bergabung di pesta teh tersebut karena saat Maghrib harus segera berbuka puasa juga tarawih, masak buat makan sahur di apartemennya yang membutuhkan waktu, mereka paham kondisi kita,” ujar Risnandar.

Sejak tahun 2014 berada di Jepang, Risnandar mengaku rindu Ramadan di tanah air, terutama suara azan dan takbir yang tidak menggema di Kumamoto. Kebersamaan saat berbuka bersama keluarga juga sangat dinantikan.

Membuat makanan tradisional Indonesia sekadar untuk mengobati rindu juga sulit karena ketiadaan bahan.

“Candil, sekoteng, cincau, dawet dan makanan tradisional Indonesia lainnya yang menyehatkan tubuh saat berpuasa, sementara di sini ada keterbatasan bahan-bahan makanan tradisional,” lanjut peneliti di LIPI ini.
sumber :cnn indonesia

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here