Jatim Siapkan Penangkaran Merak hingga Standarisasi Jeep Wisata Bromo
Surabaya, Nawacita.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai memperkuat upaya pelestarian budaya dan penataan sektor pariwisata. Salah satunya melalui rencana memperbanyak penangkaran burung merak di Ponorogo sebagai bentuk tanggung jawab konservasi yang berkaitan dengan keberlangsungan kesenian Reog.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, mengatakan saat ini pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Langkah tersebut dilakukan karena penangkaran merak di Ponorogo masih sangat terbatas.
“Di Ponorogo baru ada dua lokasi penangkaran. Ke depan akan melibatkan beberapa desa agar jangkauannya lebih luas. Ini bukan soal eksploitasi, tetapi bentuk pelestarian dan konservasi yang harus didukung pemerintah,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Di sisi lain, Pemprov Jatim juga menyiapkan regulasi untuk meningkatkan standar keselamatan destinasi wisata berisiko tinggi. Salah satunya melalui penyusunan Peraturan Gubernur tentang standarisasi jeep wisata di kawasan Bromo bersama empat kabupaten penyangga, yakni Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.
Baca Juga: Akses Pendidikan Kian Terbuka, Penerima Beasiswa SMA-SMK Swasta di Jatim Tembus 81 Ribu Siswa
Evy menegaskan, seluruh kendaraan wisata nantinya wajib memenuhi uji kelaikan, menyusul maraknya modifikasi kendaraan yang berpotensi membahayakan wisatawan.
“Pemerintah harus turun tangan. Wisata berisiko tinggi seperti gunung, laut, dan air terjun harus memiliki standar keselamatan yang jelas,” katanya.
Meski diwarnai berbagai tantangan, sektor pariwisata Jawa Timur disebut masih menunjukkan tren positif. Bahkan, kunjungan wisatawan mancanegara terus meningkat, didorong oleh popularitas destinasi seperti Bromo, Tumpak Sewu, dan Ijen di berbagai platform digital.
Bagi Pemprov Jatim, pertumbuhan pariwisata tak cukup hanya mengejar jumlah kunjungan. Keselamatan wisatawan, kualitas layanan, dan kelestarian alam serta budaya menjadi pekerjaan rumah yang harus berjalan beriringan.
Reporter: Alus


