Cita Rasa Kerupuk Klenteng Bojonegoro Hampir Seabad, dari Warisan Keluarga jadi WBTB
Bojonegoro, Nawacita – Di balik rumah klasik berusia lebih dari seabad di Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 132, tersimpan kisah panjang perjuangan keluarga mempertahankan cita rasa legendaris. Dari usaha rumahan sederhana, turun temurun warisan keluarga, Kerupuk Klenteng Bojonegoro diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Pengakuan tersebut diterima pada 2024 setelah proses panjang pendokumentasian sejarah, penyusunan buku perjalanan usaha, hingga pembuatan video profil yang didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro.
Di halaman rumah produksi, baliho besar bertuliskan “Warisan Budaya Tak Benda Kerupuk Abang Ijo Bojonegoro, Kerupuk Klenteng Rasa Asli d/h Tan Tjian Liem”, Pemilik usaha Kerupuk Klenteng, Anton Indarno langsung menyambut pengunjung. Lokasinya berada tepat di timur traffic light Klenteng Hok Swie Bio, tempat yang sejak lama identik dengan kerupuk warna-warni khas Bojonegoro itu.
“Tahun 2024, Kerupuk Klenteng Abang Ijo Bojonegoro diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda karena rasa asli dari resep turun-temurun dan metode pembuatannya yang mempertahankan keaslian,” ujar Anton.
Usaha tersebut bermula dari perjalanan hidup Tan Tjian Liem dan istrinya, Oei Hay Nio. Sebelum sukses memproduksi kerupuk, Tan sempat mengalami kegagalan dalam berbagai usaha, mulai dari toko kelontong, bisnis kerupuk di Sidoarjo, hingga usaha kain batik.
Namun kegagalan tidak membuatnya menyerah. Sekitar Maret 1929, Tan kembali ke Bojonegoro dan mulai memproduksi kerupuk di lokasi yang hingga kini tetap menjadi pusat produksi keluarga.
Awalnya kerupuk hanya berwarna putih. Demi menarik perhatian pembeli, dibuatlah varian warna merah, kuning, dan hijau yang kemudian menjadi ciri khas. Karena lokasi produksinya dekat klenteng, masyarakat akhirnya mengenalnya sebagai “Kerupuk Klenteng”. Sebagian warga juga menyebutnya “kerupuk abang ijo” karena dominasi warna merah dan hijau pada produknya.
Anton sendiri merupakan generasi keempat penerus usaha keluarga. Pria yang sebelumnya berprofesi sebagai fotografer itu mulai fokus mengelola usaha sejak 2010 setelah ayahnya sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Kini, Anton mempertahankan resep asli keluarga yang sudah diwariskan hampir satu abad. Dalam menjaga kualitas rasa, ia bahkan masih dibantu sang ibu sebagai pengawas cita rasa autentik Kerupuk Klenteng.
“Sebagai quality control, saya masih dibantu ibu untuk memastikan rasanya tetap autentik dengan resep asli dari keluarga,” tuturnya.
Selain menjaga resep turun-temurun, Anton juga melakukan inovasi pada sisi kemasan tanpa menghilangkan identitas tradisional produk. Saat ini Kerupuk Klenteng memiliki tiga jenis kemasan yang seluruhnya telah menggunakan bahan food grade.
Kemasan reguler dijual mulai seperempat kilogram seharga Rp15 ribu menggunakan plastik putih dengan label produk. Sementara varian Top Cemerlang memakai kemasan aluminium foil dan totebag hijau yang mampu menjaga kerenyahan hingga 90 hari, sehingga banyak diburu sebagai oleh-oleh luar pulau.
Adapun kualitas tertinggi hadir dalam varian Top Premium yang melalui proses sortir dua kali sebelum dikemas. Produk premium ini menjadi pilihan banyak pembeli luar kota karena kualitas dan daya tahannya yang lebih baik.
Bagi Anton, status WBTB bukan sekadar penghargaan, melainkan pengakuan bahwa Kerupuk Klenteng telah menjadi bagian dari identitas budaya Bojonegoro yang terus dijaga lintas generasi.
Reporter: Parto Sasmito

