Waspada! Panas Ekstrem Bisa Picu Lansia Jadi Linglung
JAKARTA, Nawacita — Indonesia diprediksi akan mengalami fenomena El Nino tahun ini, yang dapat memicu kemarau panjang dan cuaca lebih panas dalam beberapa bulan ke depan. Sekretaris Jenderal Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI), dr Putro S Muhammad, menekankan bahwa individu lanjut usia (lansia) menjadi salah satu kelompok rentan dalam kondisi ini.
Menurut dr Putro, cuaca panas ekstrem dapat menyebabkan lansia menjadi linglung, pusing, dan lemas akibat kekurangan cairan atau dehidrasi. la menjelaskan bahwa dehidrasi mengurangi volume darah, sehingga otak kekurangan oksigen dan nutrisi yang menyebabkan disorientasi.

“Kondisi ini sering keliru dianggap sebagai gangguan otak murni, padahal sebenarnya disebabkan oleh kurangnya cairan. Setelah kebutuhan cairan tercukupi, biasanya akan membaik,” kata dr Putro saat dihubungi, Kamis (9/4/2026).
Selain itu, menurut dr Putro, fungsi ginjal lansia menurun seiring usia sehingga perlu diperhatikan frekuensi buang air kecil. Jika tiba-tiba lansia tidak buang air kecil sepanjang hari, hal ini bisa menjadi tanda bahaya.
“Nah, perlu dicek kalau di lansia itu buang air kecilnya gimana frekuensinya. Apakah tiba-tiba jadi tidak buang air kecil seharian, atau urinenya gelap, itu juga tanda-tanda,” ujar dr Putro.
Faktor jantung juga penting diperhatikan. Menurut dr Putro, lansia dengan riwayat penyakit jantung atau ginjal perlu pengawasan lebih ketat, termasuk saat pemberian cairan.
“Pemberian cairan harus hati-hati, jangan sembarangan, apalagi kalau ada penyakit jantung atau ginjal,” ujar dokter.
Baca Juga: Kecanduan Internet di Kalangan Lansia China, Apa yang Terjadi?
Soal pemberian oralit, dr Putro mengatakan bahwa lansia tidak boleh menunggu haus untuk minum. Kebutuhan cairan harian sebaiknya dipenuhi sekitar dua liter per hari, namun pemberian harus disesuaikan jika ada masalah jantung. Frekuensi minum harus sering dingatkan, terutama oleh keluarga.
la menekankan bahwa selama El Nino, keluarga dapat mengambil langkah pencegahan sederhana namun efektif. Mulai dari menyediakan stok oralit dan mengenali tanda-tanda dehidrasi pada lansia.
“Dengan pemantauan yang tepat, risiko komplikasi akibat dehidrasi dapat diminimalkan,” kata dr Putro. rpblk



