Tuesday, February 24, 2026

Gubernur Koster: Pemerintah Wajib Beri Perlindungan dan Perhatian pada Sulinggih

Gubernur Koster: Pemerintah Wajib Beri Perlindungan dan Perhatian pada Sulinggih

Denpasar, Nawacita | Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan para Sulinggih merupakan bagian penting yang wajib mendapat perhatian dari pemerintah. Pasalnya, Sulinggih memiliki tugas dan tanggung jawab cukup berat di bidang ritual, dalam menjaga kedamaian dan keselamatan Bali secara niskala.

Koster menyampaikan bahwa Bali yang kecil dengan kepadatan penduduk berkisar 4,5 juta jiwa, berbeda dengan provinsi lain karena budaya tampil sebagai cara hidup di Bali.

Salah satunya budaya dan adat istiadat dalam menjaga Bali melalui ritual dan spiritual, yang dijadikan kebiasaan hidup sehari-hari. Mulai dari melaksanakan upacara dari tingkat paling kecil dan simpel (saiban dan sarana canang), sampai dengan tingkatan paling besar, yakni upacara Eka Dasa Ludra, yang dilaksanakan secara turun temurun sejak dulu.

- Advertisement -

Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari dan menjadi budaya ini, menjadi magnet dan daya tarik kuat bagi wisatawan untuk datang ke Bali.

“Bali dibedakan oleh kebudayaan yang dimiliki, dilestarikan dan di jaga hingga saat ini.

Baca Juga: Gubernur Koster Mengadu ke Wapres Gibran soal TPA Suwung Belum Bisa Ditutup

Jangan sampai kita kehilangan jati diri dan kebiasaan hidup lantaran mengimpor budaya asing, dan mematikan budaya lokal itu sendiri.

Karena kekuatan itu letaknya ada pada kebudayaan, adat dan istiadat tersebut,” ujar Koster saat HUT ke-4 Kertha Hindu Dharma Nusantara Pusat (Dhira Sera Dharma Manah) di Sekretariat SKHDN Pusat, Denpasar, Minggu (22/2/2026).

Koster juga menegaskan kepada semua pihak, dimana perekonomian Bali tumbuhnya dari kebudayaan. Sehingga adat istiadat dan budaya di Bali ini, harus dijaga dengan kekuatan yang terarah, sehingga dapat menghalau ancaman baik dari luar maupun dari dalam.

“Berhubung Bali tidak memiliki sumber daya alam, kecuali budaya, maka Bali harus hidup dan terus berkembang dengan budaya yang dimilikinya. Oleh sebab itu Nangun Sat Kerthi Loka Bali dijalankan baik secara sekala dan niskala,” kata Koster.

Koster menekankan agar tatanan secara niskala jangan diganggu, dan harus di jaga oleh para sulinggih. Sehingga yang harus dijaga adalah para sulinggih yang sudah melaksanakan swadarma sesuai dengan dresta Bali, yang memberikan efek Bali bisa ajeg, damai hidup berdampingan, serta pura bisa terpelihara dengan baik melalui cara yang sesuai.

Baca Juga: Gubernur Koster Dorong Percepatan Jalan Gilimanuk–Mengwi, Bappenas-DPR RI Siap Dukung Infrastruktur Bali

“Untuk terus menjaga Bali dengan budaya, adat dan istiadatnya, saya harapkan para sulinggih terus menegakkan betul dresta Bali.

Jangan sampai meluntur agar saat melaksanakan pembenahan menuju hal yang lebih baik di bidang kebudayaan, adat dan istiadat, tidak mengulang dari awal,” ucapnya.

Dresta Bali untuk tetap dijaga dan tidak bertambah banyak, agar tidak hancur dan rusak. Desa adat terus ada untuk menjaga budaya Bali dan menjalankan ritualnya dengan sangat tertib. Terlebih ditengah menghadapi perkembangan jaman.

Koster pun mengingatkan bahwa para sulinggih adalah mereka yang menjaga Bali secara ritual. Pemerintahan (guru wisesa) berkewajiban memberikan perlindungan dan perhatian kepada para sulinggih, agar mereka dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, menjaga Bali dan mampu membawa arus kebaikan secara terus menerus. jppn

RELATED ARTICLES
bank jatim
- Advertisment -

Terbaru