Jagal dan Pedagang Daging Sapi Surabaya Mogok Kerja, Tolak Pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun
Surabaya, Nawacita | Koordinator para jagal dan pedagang daging sapi se-Kota Surabaya, Abdullah Mansyur, menyatakan penolakan tegas terhadap rencana Pemerintah Kota Surabaya memindahkan Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke kawasan Tambak Osowilangun. Penolakan tersebut diwujudkan melalui aksi mogok kerja yang akan terus berlanjut hingga tuntutan mereka dipenuhi.
Abdullah menyampaikan ada dua tuntutan utama yang diajukan kepada Wali Kota Surabaya. Pertama, meminta pembatalan rencana pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun. Kedua, meminta pencabutan surat edaran terkait pendaftaran jagal Pegirian untuk dipindahkan ke lokasi baru.
“Yang pertama kami menuntut Wali Kota Surabaya membatalkan rencana pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Osowilangun. Kedua, kami minta surat edaran pendaftaran jagal untuk pindah ke Osowilangun dicabut,” ucap Abdullah.
Ia menegaskan, aksi mogok kerja akan terus dilakukan sampai tuntutan dipenuhi. Bahkan, para jagal dan pedagang daging sapi siap menggelar aksi demonstrasi besar-besaran dan memperpanjang mogok kerja hingga berbulan-bulan.
“Kami akan terus mogok sampai betul-betul tuntutan kami dipenuhi. Mogok ini bisa satu bulan, dua bulan, bahkan satu tahun pun akan kami lakukan sebagai alarm bagi Pemkot Surabaya, Gubernur Jawa Timur, dan Presiden Prabowo Subianto terkait stabilitas ekonomi,” tegasnya.
Baca Juga: Relokasi RPH Pegirian: Pemkot Surabaya Siapkan Jagal Pengganti Jika Ada Penolakan di Lokasi Baru
Menurut Abdullah, para pelaku usaha daging sapi merasa tidak pernah dilibatkan dalam proses penentuan lokasi RPH baru. Mereka tiba-tiba diberi informasi tentang lokasi yang dinilai terlalu jauh dari pusat aktivitas perdagangan.
“Kami tidak pernah diajak bicara soal penentuan lokasi. Tiba-tiba disodorkan tempat baru yang jaraknya sangat jauh,” katanya.
Selain itu, ia memperkirakan pemindahan RPH akan berdampak pada meningkatnya pengangguran. Banyak pekerja diprediksi memilih berhenti karena terkendala jarak, biaya transportasi, hingga biaya tempat tinggal.
“Kami pastikan akan ada ribuan orang yang menjadi pengangguran. Mereka sudah menghitung akses, kos, dan biaya hidup. Banyak yang tidak mau lagi bekerja di RPH yang baru,” ungkapnya.
Alasan lain penolakan adalah meningkatnya biaya operasional jika pemotongan dilakukan di Tambak Osowilangun. Para jagal dan pedagang daging menilai biaya produksi akan membengkak dan berpotensi berdampak pada harga daging di pasar.
Abdullah juga menyatakan bahwa seluruh jagal dan pedagang daging sapi di Surabaya telah sepakat untuk tidak mendaftar pindah ke lokasi baru.
“Kami kompak, kami semua menolak. Kami pastikan tidak akan ada yang mendaftar untuk dipindah ke tempat lain,” ujarnya.
Ia menilai RPH Pegirian saat ini masih layak beroperasi karena telah mengantongi kelengkapan administrasi dan sertifikasi, termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nomor Kontrol Veteriner (NKV), serta Dinas Peternakan.
Baca Juga: Relokasi RPH Pegirian Ditolak Jagal, DPRD Ingatkan Pemkot Tak Asal Buat Kebijakan
“Secara administratif RPH Pegirian masih layak. Ada surat MUI, NKV, dan Dinas Peternakan juga sudah mengeluarkan izin,” katanya.
Selain itu, para jagal juga meragukan aspek higienitas RPH baru karena beredar isu bahwa lokasinya berdampingan dengan tempat pengelolaan sampah.
“Ada isu RPH baru berdampingan dengan tempat hubungan sampah, sehingga kami meragukan higienitas daging,” tambahnya.
Abdullah mengungkapkan sebelumnya mereka mendapat informasi bahwa lokasi RPH baru akan berada di wilayah Tambak Wedi, Mulyorejo, atau Kenjeran. Namun, mereka justru dikagetkan dengan keputusan pemindahan ke Tambak Osowilangun yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit hingga satu jam dari pasar.
“Awalnya kami dengar di Tambak Wedi, Mulyorejo, atau Kenjeran. Tapi ternyata dipindah ke Tambak Osowilangun yang jaraknya 45 menit sampai satu jam dari pasar,” pungkasnya.
Reporter : Rovallgio



