Pemerintah Belum Bahas Penghapusan Pertalite, Dipastikan Masih Ada di 2024

Penghapusan Pertalite
SPBU Pertamina.
top banner

Pemerintah Belum Bahas Penghapusan Pertalite, Dipastikan Masih Ada di 2024

Jakarta, Nawacita | Pemerintah saat ini belum membahas rencana penghapusan Pertalite di 2024. Hal itu dikatakan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji.

Wacana penghapusan Pertalite tahun depan sebelumnya muncul dari Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati. Dalam rapat di DPR pekan lalu, dia mengatakan telah melakukan kajian internal mengenai penghapusan Pertalite dan akan digantikan dengan Pertamax Green 92 yang lebih ramah lingkungan.

“Ya kita masih (belum). Kalau Pertamina mau bahas silakan, tapi kalau pemerintah belum,” kata Tutuka saat ditemui di sela-sela Indonesia Sustainability Forum, Kamis (7/9).

Tutuka menilai, jika ingin mengejar BBM yang ramah lingkungan, harusnya bisa menunggu ketersediaan BBM Euro yang saat ini Pertamina garap di Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina di Kilang Balikpapan. Kilang tersebut ditargetkan menghasilkan BBM Euro 5 tahun depan.

Penghapusan Pertalite
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji

“Pertamina akhir 2024 dan awal 2025 itu bisa mencapai Euro 5 itu 10 ppm (part per million) itu bisa loh yang di Balikpapan (RDMP Fase II). Nah sekarang itu baru (sulfur) 500 PPM kan, masih di bawahnya itu, tapi akhir 2024. Paling tidak awal 2025 itu bisa Euro 5 itu tunggu selesai RDMP Balikpapan,” ungkap Tutuka.

Tutuka menjelaskan, keputusan untuk meniadakan Pertalite akan bergantung dengan masalah polusi di Indonesia. Selain itu, keputusan ini juga akan diambil berdasarkan pertimbangan ekonomi dan sosial yang ditentukan lintas kementerian.

“Kalau sudah ada atau tidak itu masalahnya tidak sederhana, tergantung masalah polusi tidak demikian. Ini harus ada pertimbangan ekonomi dan sosial dan itu tidak bisa dari Kementerian ESDM saja, harus ada kementerian lain,” ungkap Tutuka.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017 tentang batas emisi setara Euro 4, spesifikasi bahan bakar Euro 4 yakni RON minimal 91, bebas timbal dan kandungan sulfurnya maksimum 50 ppm.

Saat ini BBM produk Pertamina yang mendekati spesifikasi Euro 4 berdasarkan Permen LHK Nomor 20 Tahun 2017 adalah Pertamax Turbo yang paling mendekati walau angka RON-nya lebih tinggi.

Meski begitu, Pertamax bukan bensin yang sesuai spesifikasi Euro 4 di Indonesia. Spesifikasi Pertamax yakni warna biru, memiliki RON 92, sulfur 500 ppm, sulfur merkaptan 20 ppm, timbal 0,013 gram per liter, kandungan pewarna 0,13 gram per 100 liter, dan stabilitas oksidasi minimal 480 menit.

Baca Juga: Menteri ESDM Bantah Wacana Pertamax jadi BBM Bersubsidi

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, jika pemerintah menerima usulan ini, Pertalite akan digantikan Pertamax Green 92. Tapi harganya akan diatur karena masuk dalam barang subsidi dalam Jenis BBM Penugasan Khusus (JBKP) seperti Pertalite saat ini.

Sedangkan sekarang Pertamax masih merupakan Jenis BBM Umum (JBU) yang harganya diatur Pertamina sesuai harga minyak mentah dunia.

“Tentu saja ketika ini menjadi program pemerintah, Pertamax Green 92 harganya pun tentu ini adalah regulated. Tidak mungkin yang namanya JBKP harganya diserahkan ke pasar karena ada mekanisme subsidi atau kompensasi di dalamnya,” ujar Nicke dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (30/8).

Menurut Nicke, usulan ini sejalan dengan keinginan pemerintah yang ingin Indonesia bebas emisi karbon (Net Zero Emission/NZE) pada 2026. Hal ini terlihat dari kandungan Pertamax Green 92 yaitu campuran Pertalite (RON 90) dengan 7 persen etanol yang disebut E7. Tapi dia ingin harganya disubsidi agar terjangkau bagi masyarakat. kmprn

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here