Kemenkeu Belum Terapkan Cukai Minuman Berpemanis dalam Waktu Dekat

ilustrasi minuman berpemanis dalam kemasan
top banner

Kemenkeu Belum Terapkan Cukai Minuman Berpemanis dalam Waktu Dekat

Jakarta, Nawacita | Rencana pengenaan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani menyampaikan, pengenaan cukai minuman berpemanis akan mempertimbangkan kondisi ekonomi pascapandemi Covid-19.

“Saat ini belum ada rencana hal tersebut, sambil kita lihat perkembangan ekonomi Indonesia pada 2023,” kata Askolani, Senin (6/2/2023).

Askolani di kesempatan sebelumnya juga telah menyampaikan, pemerintah akan mempertimbangkan banyak faktor untuk bisa mengimplementasikan cukai minuman berpemanis dalam kemasan.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani

Pertimbangan tersebut antara lain, kondisi pemulihan ekonomi, kondisi ekonomi global dan nasional, kemudian dari sisi industri, inflasi, hingga isu kesehatan.

“Tentunya banyak faktor itu yang akan menjadi landasan apakah cukai minuman berpemanis akan dilaksanakan atau belum dilaksanakan,” kata Askolani.

Dorongan agar pemerintah menerapkan cukai minuman berpemanis salah satunya disampaikan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI).

CISDI menilai belum adanya regulasi terkait iklan, promosi, dan sponsor minuman berpemanis dalam kemasan membuat pemasaran MBDK selalu dikemas sangat menarik bagi anak-anak muda.

Akibatnya, jumlah konsumen terus meningkat dan menciptakan kesan minuman berpemanis dalam kemasan adalah produk yang normal dan baik-baik saja.

Baca Juga: Kemenkeu Masih Ragu Kenakan Tarif Cukai Plastik

Padahal, konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan adalah salah satu faktor risiko yang meningkatkan prevalensi obesitas dan penyakit tidak menular di Indonesia, termasuk terhadap anak-anak muda.

Dokter spesialis anak konsultan Hartono Gunardi mengungkapkan, pada anak-anak, konsumsi minuman berpemanis yang berlebihan bisa menyebabkan obesitas. Karenanya, konsumsi minuman berpemanis perlu dibatasi. Apalagi obesitas kerap menjadi “pintu gerbang” masuknya berbagai penyakit berbahaya.

“Kebanyakan minum manis itu bisa menyebabkan obesitas atau kelebihan berat badan. Pada anak-anak, nanti ketika dewasa bisa mengakibatkan diabetes. Tetapi tidak langsung anak yang minum manis-manis pasti akan diabetes, ada faktor lainnya juga,” kata Gunardi. brtst

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here