Menelusuri Gaya Kepemimpinan Ir. Soekarno, Macan Podium hingga Marhaen

0
391

Opini | Nawacita – Koesno Sosro Soekarno atau yang sekarang dikenal sebagai Ir. Soekarno merupakan tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pribadi gemilangnya sudah nampak sejak ia masih berusia muda dengan cerminan karakter santun, jujur, adil, dan peduli dengan rakyat kecil. Kepedulian ini membawanya pada pemikiran-pemikiran besar yang merubah tatanan kesengsaraan atas penjajahan  masyarakat Indonesia pada beberapa tahun silam. Dengan keenam gaya kepemimpinannya yaitu charismatic, transformational, strategic, cross-cultural/diversity, authoritarian, dan adaptive leadership kita akan diajak untuk mendalami sejarah hidupnya dalam membebaskan Indonesia dari penjara kolonialisme dan menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Macan Podium Asia

Pidato Ganyang Malaysia, pembebasan Irian Barat, Proklamasi, dan berbagai pidato lain yang dikumandangkannya merasuk bak ramuan magis pada setiap ingatan umat manusia. Tidak sedikitpun dari kata-katanya yang tergelincir keluar dari pola pikir pribumi pada waktu itu. Bahkan terdengar hingga ke berbagai belahan dunia hingga ia dijuluki sebagai ‘Macan Podium Asia’.

“Berbagai anggukan setuju dan semangat persatuan seperti mengalir dengan otomatis pada darah pendengarnya dan hal ini menjadi bukti dari gaya kepemimpinan kharismatikseorang Ir. Soekarno yang tak terbantahkan.”

Tidak hanya bersuara lantang, jiwa politiknya juga cemerlang sejak ia masih duduk di bangku pendidikan. Banyaknya aktivitas politik yang dilalui tak terlepas dari pergaulannya semasa menjadi siswa HBS dengan berbagai tokoh-tokoh kharismatik dari Sarekat Islam (SI). Seperti Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Tan Malaka, dan sebagainya. Walaupun demikian, sifat kharismatiknya ini juga telah melindunginya dari berbagai hal. Seperti yang kita pahami bahwa salah satu tindakan tabu yang dilakukan oleh Presiden pertama RI ini adalah kebiasaan poligaminya.

Menurut Diagnostic Statistical Manual IV (DSM-IV) perilaku Soekarno menunjukkan adanya kontrol dorongan seksual yang buruk terhadap wanita (hiperseksualitas) sehingga mampu menimbulkan konsekuensi yang merugikan bagi dirinya dan orang lain. Namun menurut Tianlean (2002), masih banyak masyarakat Indonesia yang menganggapnya sebagai seorang pemimpin dan pribadi yang dikagumi. Hal ini merupakan bentuk perwujudan dari karisma kuat seorang Ir. Soekarno yang terus mengakar dalam diri para pengikutnya.

Dari petani miskin, hingga pemikiran Marhaen

Salah satu pemikiran paling terkenal dari Presiden pertama RI ini adalah Marhaenisme. Konsep ini bermula ketika Soekarno sedang berkunjung ke Bandung, dimana ia berjumpa dengan petani yang sedang menggarap sawah miliknya sendiri, dengan berbagai peralatannya sendiri. Pemandangan ini tentu saja tidak semerta-merta menggambarkan nasib proletar sebab petani tersebut tidak menjual tenaganya dan ia memberdayakan modalnya sendiri. Namun, petani tersebut nyatanya hidup dalam kemiskinan dan ketika Soekarno bertanya perihal namanya, ia menjawab : “Marhaen,”. Dari situlah muncul istilah Marhaen, yaitu sebagai penggambaran atas penderitaan rakyat Indonesia. Tapi siapa sangka, karena ketidaksengajaan ini membuahkan sebuah motivasi besar yang menjadikannya sebagai sosok pengubah nasib Hindia-Belanda menjadi sebuah negara yang berdiri sendiri dan merdeka dari segala bentuk penindasan kolonial.

Dengan keprihatinannya atas kemiskinan, Soekarno menggabungkan konsep Marhaenisme dengan massaisme yaitu kekuatan massa, dimana menurutnya biarpun status dan kepemilikan mereka kecil, namun dalam melawan kolonialisme mereka merupakan sebuah persatuan dalam jumlah yang besar sehingga mampu membentuk kekuatan perlawanan yang optimal.

“Jikalau aku misalnya diberikan dua hidup oleh Tuhan, dua hidup ini pun akan aku persembahkan kepada tanah air dan bangsa”

-Ir. Soekarno

 

Gagasan ini sangat mencerminkan gaya kepemimpinan transformasional, dimana Ir Soekarno bertindak tanggap dalam menghadapi ketidakadilan sistem dan berusaha untuk mengubah ketidakteraturan ini menjadi sebuah sistem yang lebih baik lagi dan tentunya menyejahterakan pengikutnya. Dengan gaya kepemimpinan ini, Soekarno berhasil mengubah tatanan kehidupan masyarakat pribumi yang sarat akan penindasan dan ketidakadilan menjadi sebuah lingkungan kehidupan yang bebas dan merdeka sehingga setiap orang berhak untuk mengelola jalan hidupnya sendiri, memilih apa yang ditanam, apa yang dimakan, dan apa yang dijual, serta menjadi independent atas pemikirannya.

Pahlawan Negeri untuk Dunia Internasional

Berbagai kebijakan yang diambil Soekarno dalam memperjuangkan NKRI juga tidak pernah terlepas dari buah pemikirannya yang sistematis dan strategis. Contohnya dalam upaya membebaskan Irian Barat, Soekarno melihat bahwa upaya tersebut tidak dapat dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri berdasarkan kekuatan atau modal militer saja melainkan juga memerlukan kesadaran akan pemikiran sistem tentang bagaimana hubungan dan interaksi bangsa harus tercipta secara dinamis dalam membentuk sebuah pencapaian cita-cita bersama. Oleh karena itu, Soekarno memprakarsai Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan pada tahun 1955 setelah enam tahun Indonesia memperoleh kedaulatan penuh pada tahun 1949 dan menghasilkan Dasa Sila Bandung.

Gaya kepemimpinan strategis-nya ini telah menjadikan Indonesia sebagai bentuk legitimasi kepemimpinan yang kuat di Asia Afrika dan mengartikulasikan keberdayaan indonesia pada dunia internasional di tengah perang dingin yang sedang mengguncang dunia.

Dialektika pemikiran Soekarno juga terus berkembang dengan perwujudan Deklarasi Juanda sebagai alat pemberdaya kekuatan geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Berbagai ide-ide sistematis dan strategis lainnya seperti pembentukan Non-Blok atas dasar pertentangan ideologi pertempuran geopolitik antara Blok Barat dan Blok Timur, hingga kasus internal Irian Barat yang dengan praktis ia tuntaskan atas dasar perdamaian dunia dan diplomasi pertahanan negeri demi Indonesia yang lebih baik atas rakyatnya sendiri maupun dunia internasional.  “All for All

 

Deskripsi Ir. Soekarno

Dilahirkan dari bangsawan rendahan Jawa dan kepemilikan darah Bali tidak menyurutkan niat Soekarno untuk mempelajari budaya lainnya terlebih yang paling dekat dengan lingkungannya pada saat itu yaitu Budaya Eropa. Sejak muda Soekarno sudah banyak dididik untuk berperilaku adaptif dalam segala situasi yang ada, termasuk situasi kolonialisme. Tentu saja hal ini tidak dengan mudah dilakukan oleh semua kaum, pasalnya pertama, belum banyak orang tua pada waktu itu yang menganggap pendidikan sebagai hal penting seperti orang tua Soekarno. Kedua, seperti yang kita sadari juga bahwa memang tidak semua keluarga memiliki privilege yang sama seperti Soekarno sebagai anak bangsawan rendah dalam memperoleh kesempatan langka untuk mengenyam pendidikan di sekolah Eropa. Kedua hal ini tentu juga menjadi alasan tentang pertanyaan mengapa harus Soekarno dan tidak yang lain? dan sebagainya.

Dalam hal ini, sangat pantas kita menyebutnya dalam dua teori kepemimpinan lainnya yaitu sebagai cross-cultural dan adaptive leader, karena ia mampu menyatukan berbagai paradigma budaya yang melingkupinya sebagai suatu strategi baru dalam membangun kemerdekaan bangsanya. Walaupun ia membela tanah airnya, Soekarno tidak segan-segan mengadopsi pemikiran-pemikiran Eropa yang menurutnya mampu membuat maju dengan sedikit modifikasi yang paling sesuai dengan nilai yang dianut oleh pribumi. Sebagai contoh hal ini terlihat dalam konsep ‘Ratu Adil’ yang dibawanya dimana konsep ini bertujuan untuk membangun negara ‘all for all’ atau satu untuk semua atau negara dibangun atas kerja sama timbal balik (McIntyre, 2001, hal. 88). Soekarno juga sering menyelipkan bahasa Jawa dalam pidato-pidatonya yang menciptakan aksen kharismatik pada setiap ungkapan gagasannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kelantangan Soekarno dalam mengemukakan pendapat, tulisan-tulisannya, serta ideologi-ideologinya tidak jauh dari pengaruh multi-cultural situation yang diterpanya selama hidup dan hal tersebut juga membentuknya menjadi seorang pemimpin yang adaptif terhadap berbagai tantangan perubahan yang dihadapinya.

Presiden Seumur Hidup

Deskripsi: Ir. Soekarno

Kata “Presiden Seumur Hidup” tidak akan pernah terlepas dalam sejarah hidup Soekarno selama memimpin negara demokrasi ini. Berbagai penolakan dan kekecewaan atas masa kepemimpinannya juga tidak pernah terlepas setiap isu ini dikumandangkan kembali. Namun kita tidak akan berbicara mengenai hal itu, melainkan mengenai sekelebat tanggapan atas seberapa besar pengaruh presiden pertama Indonesia itu, sehingga hampir menjadikan negara keempat terbesar di dunia ini tunduk pada satu orang yang dianggap paling gemilang pada masanya, Ir. Soekarno. Gaya kepemimpinan otoritarian-nya ini berlangsung selama orde lama pada masa demokrasi terpimpin karena kegagalan praktik demokrasi liberal pada periode 1950-1959. Dalam masa ini kekuasaan bersifat sentralistik dan partai politik dikendalikan oleh instrumen peraturan presiden. Kekuatan ini terus bertahan hingga rezim orde baru melengserkan kepemimpinannya.

 

Nama Ir. Soekarno terus menggaung dalam sejarah pembentukan Indonesia. Bukan sekedar cerita lama, gaya kepemimpinannya memang terus dikagumi bak semerbak nama tanah air yang tidak akan pernah tenggelam di penghujung senja. Ia terus menjadi pemimpin teladan yang tak terlupakan sepanjang sejarah peradaban manusia.

Penulis : Rahma Larasati - Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FIA Universitas Indonesia

2021

 

 

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY