Kebocoran Data eHAC, Pakar Sebut Akan Berakibat Penipuan Bermodus Covid-19

0
236
Pakar keamanan cyber dan komunikasi Pratama Persadha

Jakarta, Nawacita – Kebocoran data pada 1,3 juta pengguna Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Electronic Health Alert Card/eHAC) akan menimbulkan penipuan bermodus Covid-19, seperti telemedicine palsu. Hal itu diungkapkan oleh Pakar keamanan siber Pratama Persadha.

Ia pun menilai adanya kebocoran data tersebut bisa menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat dengan aplikasi buatan pemerintah itu.

“Jelas ini meningkatkan ketidakpercayaan terhadap proses penanggulangan Covid-19 dan usaha vaksinasi. Apalagi saat ini vaksinasi menjadikan aplikasi Pedulilindungi sebagai ujung tombak,” kata Pratama, saat dihubungi, Selasa (31/8/2021).

Pratama menjelaskan data yang bocor menunjukkan identitas pengguna hingga lokasi rumah sakit.

“1,3 juta user e-HAC. Data berupa nama, rumah sakit, alamat, hasil tes PCR, akun e-HAC, bahkan data detail tentang RS serta dokter yang melakukan perawatan atau memeriksa user e-HAC,” jelas Pratama.

“Bahkan, tercantum data hotel di mana pemilik akun menginap, nomor KTP, passpor, hingga email pengguna,” lanjutnya.

Sebelumnya VPN Mentor, situs yang fokus pada Virtual Private Network (VPN), melaporkan adanya dugaan kebocoran 1,3 juta data pada Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Electronic Health Alert Card/eHAC).

Tim VPN Mentor menemukan database e-HAC itu pada 16 Juli 2021 lalu. Mereka mengecek terlebih dahulu kebenaran data itu. Kemudian mereka memberikan informasi ke Kemenkes dan menghubungi Google sebagai hosting provider pada 25 Agustus 2021.

Setelah tidak mendapatkan balasan dari Kemenkes. Maka VPN Mentor menghubungi badan siber dan sandi negera (BSSN) pada 22 Agustus. Namun, BSSN langsung mengambil langkah cepat.

“Pada 24 Agustus server e-HAC tersebut langsung di take down oleh BSSN,” imbuhnya.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY