Komisi VI DPR RI Desak BUMN Farmasi Segera Atasi Kelangkaan Obat Covid-19

0
91

Jakarta, Nawacita – Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade meminta kepada seluruh apotek-apotek milik pemerintah atau BUMN untuk memastikan ketersedia obat terapi Covid-19 dan multivitamin.

Sebab, saat ini jenis obat terapi Covid-19 yang diproduksi oleh BUMN Farmasi seperti Oseltamivir dan Azithromycin, hilang dipasaran. Sedangkan, kebutuhan masyarakat tinggi kepada obat-obat itu.

“Untuk Dirut Indofarma, Bapak memproduksi Oseltamivir. Oseltamivir ini menghilang di pasaran. Lalu Kimia Farma memproduksi Azithromycin, barang ini juga hilang di pasaran, termasuk vitamin-vitamin. Kami harapkan produksinya bisa ditambah,” kata Andre dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI dengan Dirut PT Bio Farma (Persero), Dirut PT Kimia Farma Tbk., Dirut PT Indo Farma Tbk., dan Dirut PT. Phapros Tbk., Rabu (07/07/2021).

Ia pun mengingatkan agar BUMN Farmasi harus terus memastikan ketersediaan di pasaran, jangan hanya memproduksi tapi di masyarakat sulit mendapatkan obat atau vitamin tersebut.

“Obat-obat dan vitamin itu harus ada di pasaran. Obat dan vitamin harus ada di apotek-apotek milik pemerintah, jangan sampai hilang di pasaran. Itu kepentingan kami di Komisi VI, untuk memastikan rakyat Indonesia dapat membeli obat-obat yang disebutkan ini. Jangan sampai BUMN ini produksi, BUMN ini produksi, tapi di lapangan tidak ada,” tegasnya.

Dirinya juga mendorong
Menteri BUMN Erick Thohir untuk membantu kebutuhan BUMN Farmasi. Ia menekankan jika komisi VI DPR RI akan terus memberikan dukungan politik dan dukungan anggaran terhadap langkah BUMN Farmasi untuk meningkatkan produksi obat maupun vitamin.

“Untuk itu, pada hari ini kami meminta Bapak untuk habis-habisan memproduksi. Apa yang bapak butuhkan sampaikan kepada kami, besok akan kami minta Menteri BUMN Erick Thohir untuk mendukung kebutuhan Bapak, agar obat dan vitamin ini nasibnya tidak seperti oksigen yang hilang di pasaran,” ucap politikus Partai Gerindra itu.

“Kalau memang kekurangan uang, ngomong kurang uang. Seperti yang disampaikan Dirut Pertamedika Ibu Fathema kemarin, beliau hanya bisa menambah 500 bed padahal kebutuhan kita minimal 2.000 bed, karena kekurangan uang. Nanti kita sampaikan kepada Pak Menteri, BUMN Farmasi ini butuh suntikan modal dari negara,” tambahnya.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY