Kota Surabaya Sulit Jadi Zona Hijau Covid-19, Jika Tak Libatkan Daerah Sekeliling

0
88

Surabaya, Nawacita – Kota Surabaya akan sulit memutus penyebaran Covid-19 hingga menjadi zona hijau, jika tidak ada kerjasama dengan pemerintah daerah (Pemda) di sekelilingnya. Hal itu mengacu pada status daerah sekitar Surabaya seperti Kabupaten Bangkalan yang saat ini dalam zona merah akibat lonjakan kasus Covid-19.

Hal itu disampaikan anggota DPRD Jatim Daerah Pemilihan (Dapil) Surabaya, Agatha Retnosari saat dikonfirmasi Minggu (20/6/2021). Menurut dia, Surabaya tidak akan pernah berhasil menjadi zona oranye kalau tidak ada kerjasama dengan pemerintah daerah di sekelilingnya, termasuk dengan Madura.

“Kesadaran prokes disana (Madura, red) sangat rendah. Tidak ada antisipasi sebelumnya, baik dari Pemda ataupun Pemprov Jatim,” jelas politikus asal PDI Perjuangan.

Di Madura, khususnya Kabupaten Bangkalan, lanjut Agatha sosialisasi protokol kesehatan tidak masif. “Termasuk pimpinan yang ada disana, mulai kepala daerah dan perangkatnya bahkan DPRD-nya,” terang Agatha.

Dia menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung kebijakan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi terkait penyekatan yang ada di jembatan Suramadu. Pasalnya, sebelum ada penyekatan, Surabaya sudah memasuki zona oranye.

“Saya sangat setuju dengan Mas Eri terkait penyekatan yang ada di Suramadu. Sebelum ada penyekatan itu sudah oranye, cuma 1 kelurahan Babatan, Wiyung yang merah. Lainnya sudah oranye, bahkan sudah ada yang hijau,” tegasnya.

Kemudian muncul kasus extraordinary di Bangkalan. Agatha pun membeberkan bahwa kasus tersebut sudah bukan rahasia lagi lantaran Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pernah menyampaikan orang Madura sakti-sakti.

“Bu Gubernur juga sudah menyampaikan orang Madura sakti-sakti, dan kemudian membiarkan masyarakat Madura tidak bermasker. Betul, timbul kasusnya kecil atau tidak pernah di tes. Sehingga tidak ada data yang masuk,” beber Agatha.

Kalau 1 orang yang OTG dan tidak sadar kalau dirinya OTG, bermasker saja menolak. Berarti, kata Agatha, kesadaran terhadap prokesnya sangat rendah. Apalagi jika OTG itu jalan keliling Surabaya yang kepadatan penduduknya tinggi.

“Kalau melakukan tracing ideal itu 1 OTG harus melakukan tracing 65 orang. Kenapa begitu, karena kita punya budaya silaturahmi sama tetangga. Dan sekarang jika ada yang 1 kena itu keluarganya wajib swab semua,” pungkas Agatha. (pun)

LEAVE A REPLY