Petani Beralih Tanam Pepaya, Komoditas Ketiga Setelah Pisang dan Jeruk

0
217
Ilustrasi

Bojonegoro, Nawacita – Pepaya menjadi komoditas produksi buah tertinggi ketiga setelah pisang dan jeruk. Jumlah panen tahun lalu mencapai 3.721,80 kuintal. Penanaman tidak membutuhkan banyak air dan potensi pasar menjanjikan menjadi alasan masyarakat memilih tanam pepaya. Beberapa petani palawija pun mulai beralih menanam buah memiliki kandungan vitamin A ini. Pasokan pepaya dari dalam daerah masih minim. Sementara, daya beli buah memiliki daging merah atau oranye ini menjanjikan.

Wasirun petani pepaya di Dusun Bacem, Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, menjelaskan, pepaya menjadi komoditas yang menggiurkan. Penanaman tidak membutuhkan banyak pasokan air menjadi alasan memulai investasi pepaya di beberapa wilayah Bojonegoro. Wasirun pun telah menebar menanam pepaya di sejumlah daerah. Meliputi Dusun Ngengo, Dusun Mboti, Dusun Ngrancang Kecamatan Tambakrejo. “Sudah mempekerjakan orang di masingmasing dusun,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Pangsa pasar pepaya di Bojonegoro cukup menjanjikan. Hal itulah yang mendorong Wasirun beralih menanam pepaya. Saat ini, dirinya sudah menanam 7.000 pohon pepaya. Hasil produksinya mulai 3 kuintal sampai 5 kuintal. Bisa panen dua kali dalam seminggu. “Siklus panen pepaya semakin lama semakin menyusut,” jelasnya.

Hal sama dilakukan Solikin, petani asal Desa Ketileng, Kecamatan Malo. Solikin mulai menanam pepaya karena melihat potensi pasar di sekitar wilayahnya cukup menjanjikan. Menurutnya, pepaya yang dijual di kecamatan wilayah tempat tinggalnya, ternyata disuplai dari Kabupaten Tuban. “Melihat hal itu saya jadi tertarik, karena belum ada yang menanam,” tuturnya.

Saat ini, Solikin telah menanam sekitar 200 pohon pepaya di ladangnya. Pepaya yang ditanamnya jenis kalifornia. Jenis buah memiliki isi butiran hitam itu dinilai lebih tahan busuk dari pepaya biasa. Apalagi, lahan di Kecamatan Malo juga mendukung menanam pepaya. Tidak membutuhkan banyak air dan panennya stimulan. Bisa dipanen berkali-kali. “Kemarin sudah ada pedagang yang pesan, kalau sudah panen akan dibeli,” ujar Solikin.

Solikin mengakui sebelumnya areal ladangnya digunakan menanam jagung, ketela, dan kacang-kacangan. Namun, mengetahui potensi pepaya, akhirnya beralih menanam buah memiliki kulit tipis ini. Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Bojonegoro Imam Nurhamid menjelaskan, produksi pepaya menjadi nomor tiga setelah pisang dan dan jeruk. Berdasar data yang dimilikinya tahun lalu, jumlah panen mencapai 3.721,80 kuintal. “Untuk bulan-bulan ini belum ada rekapan hasil produksi pepaya,” ujarnya ditemui Jumat (21/5) lalu.

Menurut Imam, DPKP setempat terus mendorong adanya perkembangan penanaman buah-buahan menjadi komoditas andalan di Bojonegoro. Sehingga Kota Ledre tidak hanya mengandalkan satu komoditas pertanian. Minat masyarakat terhadap pepaya karena tidak membutuhkan banyak air. Kebanyakan tersebar di wilayah barat dan timur. “Yang perlu diwaspadai adalah hama akan menyerang buah,” jelasnya.

Sumber : Radar

LEAVE A REPLY