Siwak, Sunnah Rasulullah Yang Mulai Ditinggalkan Generasi Millenial

0
275

Langsa, Nawacita –  Kehadiran sikat gigi dan bahkan elektrik membuat banyak orang kini
hampir tak lagi mengenal sikat gigi tradisional seperti siwak. Padahal, dulu
ranting atau batang dari pohon arak (persica savadora) ini menjadi pilihan
utama dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kenapa siwak?

Untuk menjaga kebersihan mulut, Nabi Muhammad menggunakan bagian dari
pohon siwak. Laman Gulf News menulis, pohon siwak berukuran kecil dengan
dahan melengkung seperti kurva dan kulit pecah-pecah. Ranting pohon ini
memiliki serat yang bisa digunakan seperti sikat gigi, memiliki aroma yang
enak serta rasa yang tajam. Namun umumnya, akar pohonnya lah yang
digunakan sebagai siwak.

Pohon arak atau siwak ini mempunyai daun berbentuk lonjong dan bunga kecil-
kecil berwarna hijau kekuningan berbuah bulat berwarna pink dan merah segar.
Pohon siwak mampu hidup di lingkungan yang sangat kering sehingga tak
heran jika pohon ini banyak ditemui di gurun serta tepi sungai di Jazirah Arab,
sebagian Afrika Utara serta di India.

Ahlibotani, Dr Laurent Garcin, yang juga seorang traveller serta kolektor
tanaman menamai pohon siwak dengan Salvadora persica pada 1749. Nama itu
diambil untuk menghormati ahli obat dari Barcelona, Juan Salvador.
Bersiwak merupakan sunnah para rasul-rasul terdahulu. Yang pertama kali
bersiwak adalah Nabi Ismail ‘alaihisallam. Terdapat banyak hadits yang
menjelaskan tentang siwak dan motivasi untuk melakukannya. Ini menunjukkan bahwa siwak adalah sunnah yang sangat ditekankan untuk diamalkan. (Al
Mulakhos al Fiqhy)

“Siwak membuat bersih mulut dan mendatangkan ridho Allah” (H.R Ahmad,shahih)
Hadits ini menunjukkan dua manfaat penting bersiwak dimana manfaat duniawi
yaitu akan membersihkan mulut dan manfaat ukhrawi yaitu akan mendapatkan
keridhoan Allah. Ini menunjukkan perbuatan yang ringan bisa menghasilkan
kebaikan dan pahala yang agung. (AsySyarhu al Mumti’ ‘alaaZaadilMustaqni’)
Kebiasaan baik yang tercermin dalam keseharian Rasulullah adalah menjaga
kebersihan, salah satunya kebersihan mulut dan gigi. Kebiasaan Nabi Muhammad bersiwak diabadikan dalam berbagai hadits. Menurut salah seorang sahabat, Abu Hurairah, Nabi pernah berkata, "Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak salat."Hal ini dimuat dalam Hadits riwayat Muslim nomor 252.

Hal serupa juga pernah disampaikan salah seorang istri Rasulullah, Sayyidah
Aisyah. Menurutnya, Nabi Muhammad pernah mengatakan, "Bersiwak artinya
menyucikan mulut dan menyenangkan Rabb."
Nabi Muhammad juga pernah menyeru kepada Umat Muslim di suatu Jumat
yang kemudian diabadikan dalam Hadits Riwayat Bukhari nomor 880 dan
Muslim nomor 846, "Mandi pada hari Jumat merupakan kewajiban bagi orang
yang sudah baligh, dan agar bersiwak, dan memakai minyak wangi bila
memilikinya.&quot:

Cara bersiwak adalah dengan menggosok gigi dan gusi dimulai dari sisi mulut
sebelah kanan atas kemudian kekiri bawah lalu kiri atas selanjutnya kanan
bawah seperti lambang tak hingga pada matematika (∞).
Ada banyak kandungan alami di dalam siwak yang diyakini mampu menjaga
kesehatan gigi dan mulut. Di antaranya yakni Alkaloid yang berfungsi sebagai
anti bakteri. Lalu, ada silika yang berfungsi sebagai abrasi alami dan
menghilangkan noda, serta Kalsium, klorida, dan fluorida, yang membantu
remineralisasi struktur gigi.
“ Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam sangat menyukai memulai pada
bagian kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam
urusan yang penting semuanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Sebagain ulama berpendapat menggunakan tangan kanan. Bersiwak adalah
termasuk sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihiwasallam, dan sunnah
adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala. Ketaatan kepada Allah tidak layak
dilakukan dengan yang kiri. Karena ini adalah termasuk ibadah maka yang lebih
utama adalah menggunakan tangan kanan.
Sebagian ulama yang lain berpendapat yang lebih utama adalah dengan tangan
kiri karena bersiwak adalah termasuk membersihkan kotoran. Kegiatan
membersihkan kotoran adalah menggunakan tangan kiri seperti saat melakukan
istinja’ atau isitijmar.

Sebagian ulama yang lainnya memberikan perincian. Jika niat bersiwak untuk
membersihkan kotoran seperti saat bangun tidur atau membersihkan sisa makan
dan minum maka menggunakan tangan kiri karena ini termasuk perbuatan
membersihkan kotoran. Jika niatnya untuk melaksanakan sunnah maka
menggunakan tangan kanan karena hal ini semata perbuatan ibadah. Seperti
bersiwak ketika hendak wudhu atau ketika akan sholat maka menggunakan
tangan kanan.

Menyikapi peerbedaan pendapat di atas, Syaikh Muhammad bin
Shalihal‘Utsaimin rahimahullah menyimpulkan bahwa dalam masalah ini
perkaranya luwes dan fleksibel, bisa menggunkan tangan kanan maupun tangan
kiri. Tidak ada dalil yang jelas dan tegas dalam masalah ini. (Lihat AsySyarhu
al Mumti’ ‘alaaZaadil Mustaqni’)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa siwak hukumnya sunnah
dilakukan kapan pun saja di setiap waktu. Akan tetapi ada lima keadaan yang
lebih ditekankan untuk bersiwak : (1) ketika hendak shalat, (2) ketika hendak
wudhu, (3) saat hendak membaca Al Qur’an, (4) saat bangun tidur, dan (5) saat
ada perubahan bau mulut seperti misalnya karena lama tidak makan dan minum,
memakan makan yang berbau tidak enak, lama diam, dan banyak bicara. (Lihat
SyarhShahih Muslim)

Penulis : Nazhiatul Hiqmah Mahasiswi IAIN LANGSA

LEAVE A REPLY