6 Warna dan Tekstur Kotoran Telinga dan Artinya

0
385
Gambar Ilustrasi
Gambar Ilustrasi

Jakarta, Nawacita – Sama seperti kotoran mata dan hidung, kotoran telinga merupakan hal yang sering kali enggan untuk dibicarakan. Padahal, kotoran telinga merupakan hal yang alami dan memiliki peran bagi kesehatan.

Sejumlah ahli medis percaya bahwa kotoran telinga menandakan kondisi umum kesehatan seseorang yang bisa mempengaruhi keadaan endokrin seseorang. Sebagai contoh, sifat dan warna lilin kotoran yang dapat berubah sesuai dengan hormon atau tingkat gula darahnya.

Namun, hal ini belum dapat dibuktikan melalui penelitian medis. Penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk lebih memahami hubungan antara serumen dan kondisi umum kesehatan seseorang.

Dikutip dari laman Livestrong, berikut penjelasan mengenai kotoran telinga yang dapat menentukan kondisi kesehatan, seperti dijelaskan oleh Michael J Kortbus, MD, FACS, ahli otolaringologi dan rekan dari American College of Surgeons.

1. Kotoran telinga berwarna putih, kuning, atau oranye

Menurut Dr Kortbus, kotoran telinga normal biasanya cenderung berminyak, terlihat seperti lilin dan berwarna bening, buram, kuning, atau sedikit kemerahan. Namun, kotoran telinga yang sehat dapat bervariasi pula, seperti serumen yang berwarna oranye pekat. Disebutkan, hal tersebut juga menunjukkan kotoran telinga yang menunjukkan seseorang sedang dalam kondisi kesehatan yang baik.

Di sisi lain, Dr Kortbus mengatakan bahwa seseorang yang sebelumnya tidak memiliki serumen, kemudian tiba-tiba mengalami perubahan pada serumen, maka bisa saja hal tersebut menandakan adanya perubahan pada saluran telinga atau kondisi kesehatan.

2. Kotoran telinga berwarna kuning susu

Jika kamu memiliki kotoran telinga yang terlihat berwarna kuning susu, maka perlu diwaspadai. Sebab, hal tersebut bisa menandakan bahwa kamu mengalami infeksi.

“Saluran telinga selalu memiliki bakteri dan spora jamur di dalamnya, sama seperti kulit,” ujar Dr Kortbus.

Pasalnya, saluran telinga memang tempat yang hangat, gelap, dan lembab, tempat yang paling disukai oleh mikroba seperti jamur untuk berkembang di sana. Jamur ini nantinya dapat berkontribusi pada terjadinya infeksi telinga bagian luar. Dr Kortbus menjelaskan beberapa cara untuk mencegah terjadinya infeksi telinga bagian luar, yaitu:

  • Hindari air masuk ke dalam saluran telinga
  • Bilas bagian luar saluran dengan handuk atau tisu setelah mandi
  • Gunakan pengering rambut yang diatur dingin untuk menguapkan kelembapan di dalam telinga
  • Hindari penggunaan suhu panas pada pengering rambut karena dapat berisiko telinga menjadi panas dan menyebabkan suhu saluran menjadi hangat, sehingga jamur dapat berkembang biak.

Apabila mengalami infeksi akibat kotoran telinga, kamu dapat mengunjungi dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti pemberian antibiotik.

3. Kotoran telinga basah

Menurut Hearing Loss Association of America (HLAA), kotoran telinga yang basah dapat menandakan adanya infeksi jamur.

“Tidak seperti infeksi bakteri yang menyebabkan rasa sakit dan kemerahan, infeksi jamur biasanya tidak sakit, sehingga menyebabkan kotoran telinga menjadi basah yang sering kali tidak berbau atau berwarna, dan biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk kembali normal,” kata Dr Kortbus.

Dr Kortbus merekomendasikan sejumlah pengobatan sederhana bagi orang yang mengalami infeksi telinga ini:

  • Campurkan alkohol isopropil dan cuka putih suling dengan perbandingan 50:50
  • Miringkan kepala, sehingga telinga menghadap ke atas dan tarik bagian luar telinga ke belakang secara perlahan agar saluran telinga lebih terbuka
  • Gunakan dropper mata untuk meneteskan campuran cuka dan alkohol ke telinga, kamu mungkin saja akan merasa pendengaran sedikit ‘bindeng’, yang menandakan obat masuk ke tempat yang tepat
  • Setelah beberapa saat, miringkan kepala ke bawah agar telinga menghadap lantai untuk membantu membuka kembali telinga.

Namun, apabila pengobatan ini tidak membantu, kamu bisa langsung mengunjungi dokter.

4. Kotoran telinga berwarna merah atau hitam

Kotoran telinga berwarna merah biasanya menandakan adanya pendarahan di saluran telinga, sedangkan yang berwarna hitam menandakan serumen atau gumpalan darah lama. Pendarahan tersebut dapat terjadi saat kamu menempelkan cotton swab pada telinga atau saat kamu menggaruknya karena gatal menggunakan jari. Namun, jenis lecet ini biasanya akan cenderung sembuh dengan sendirinya.

5. Kotoran telinga kering

Dijelaskan HLAA, bagi populasi tertentu, termasuk orang-orang Asia Timur dan keturunan asli Amerika, kotoran telinga kering kerap dianggap biasa. Hanya saja, sejumlah kondisi kulit, seperti keratitis, dermatitis, eksim, dan psoriasis, dapat menyebabkan kotoran telinga menjadi kering. Hal ini disebabkan oleh keratin, yaitu protein yang dibentuk oleh kulit, yang membutuhkan operasi pengangkatan jika telah mengganggu pendengaran.

6. Kotoran telinga berlebihan

Jika kamu memiliki kotoran telinga berlebihan, mungkin hal ini disebabkan oleh faktor genetik. Berdasarkan Cleveland Clinic, meski kotoran telinga biasanya akan keluar dari saluran secara alami, kotoran telinga yang berlebihan bisa menyebabkan masalah kesehatan, seperti kehilangan pendengaran, nyeri, pusing, dan telinga berdengung.

Selain itu, jika kamu memiliki kotoran telinga berlebihan, kamu tidak disarankan untuk membersihkannya dengan cotton swab, sebab hal ini akan mendorong kotoran masuk lebih dalam lagi ke telinga. Dr Kortbus menyarankan untuk langsung membersihkannya ke dokter.

dtk

LEAVE A REPLY