Mualaf Argentina Ini Rajin Membaca Al-Qur’an di Sela-Sela Berjualan Kebab dan Sholat Tepat Waktu

0
50

Kalimantan | Nawacita – Membaca Al-Qur’an dan sholat wajib 5 waktu adalah yang tak boleh diabaikan begitu saja. Kedua hal tadi dapat dilakukan saat berjualan sambil menunggu pembeli.

Hal ini yang dilakukan Umar bin Abdullah (24) berjualan kebab dan nasi kebuli di pinggir Jalan Antasari, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng. Dia tetap mengisi waktu dengan cara yang menginspirasi, yakni membaca Al-Qur’an

“Ya pas tidak ada pembeli saya luangkan waktu untuk mengaji, kalau ada suara azan langsung sholat di masjid. Ini bekal saya nanti di akhirat.”

Umar bin Abdullah adalah mualaf kewaraganegaraan Argentina. Umar diketahui mempunyai istri warga negara Indonesia bernama Aulia (28) berprofesi sebagai dokter dan bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Pangkalan Bun.

Dengan tampilan janggut lebat dan celana di atas mata kaki alias bukan isbal Umar menggunakan sepeda motornya berjualan kebab dan nasi kebuli.

“Harga kebab mini Rp5.000, yang besar Rp10 ribu, nasi kebuli per bungkus Rp10 ribu. Semua bahannya ini saya buat sendiri,” ujar Umar yang sudah menjadi mualaf sejak 2013 saat masih di Argentina, Selasa (2/2/2021).

Baca : Presiden Instruksikan Perbaikan Sarana Penghubung yang Rusak Akibat Banjir di Kalimantan Selatan

“Ya pas tidak ada pembeli saya luangkan waktu untuk mengaji, kalau ada suara azan langsung sholat di masjid. Ini bekal saya nanti di akhirat,” katanya.

Ia pun penceritakan pertama kali ke Indonesia pada 2017. Berawal untuk memperdalam agama Islam.Sebab di Argentina warga yang beragama Islam sangat sedikit. Makanya ia memilih Indonesia untuk memperdalam agama Islam karena penduduknya mayoritas muslim.

“Saya seorang mualaf sejak 2013 saat masih di Argentina. Saya dulu seorang Katolik. Awal masuk Indonesia sekitar tahun 2017 untuk belajar agama Islam di Yogjakarta. Sebelumnya pernah ke Selandia Baru, Australia dan saya melihat Indonesia mayoritas beragama muslim. 2018 baru masuk Kalimantan.”

Selama di Pangkalan Bun Kalteng Umar banyak berkenalan dengan para ustaz dan ulama. Dan dari situlah kenal dengan mertua.

“Pada 2018 bulan Febuari tiba di Pangkalan Bun, saya menikah Agustus 2018, istri saya asli pangkalan bun namanya Aulia (28), saya sudah diberi seorang anak perempuan bernama Maryam. Sampai sekarang saya masih warga negara Argentina. Tapi jika nanti semua syarat selesai saya pasti akan menjadi WNI,” pungkasnya.

Sementara soal jualannya Umar mengatakan, sudah sejak Juli 2020 berjualan kebab dan nasi kebuli di pinggir jalan dengan motor.

“Awalnya dulu saya mangkal di depan masjid Sirajul Huhtadin dekat pasar. Baru satu bulan mangkal di sini (Jalan Antasari depan lapangan Istana Kuning),” ujar Umar yang fasih berbahasa Indonesia yang belajar secara otodidak sejak di Indonesia.

Ia mengaku mempunyai ide berjualan kebab pinggir jalan setelah melihat penjual kebab di Pangkalan Bun belum banyak dan harganya juga mahal. Untuk itu ia mencoba berjualan kebab dan nasi kebuli dengan harga murah.

Dia mengaku tidak malu berjualan kebab di pinggir jalan menggunakan motor meski istrinya seorang dokter. Bahkan ia mengaku mertua dan istri mendukung atas usaha kulinernya ini.

“Ngapain malu, gengsi. Daripada maling atau mencuri. Mertua saya dan istri mendukung. Yang penting halal dan barokah. Cita cita saya nanti jika usaha saya laris akan menbuat food truck. Semoga saja kesampaian.. bismilllah,” ujarnya.

Umar berjualan setiap hari mulai pukul 06.00 WIB sampai sore hari dan mangkal di depan lapangan tugu Istana Kuning. “Sehari paling sepi 20 kebab terjual, kalau ramai bisa 30 kebab. Nasi kebuli sekitar 20-25 bungkus,” ujar ayah Maryam yang berusia 1 tahun.

Oke

LEAVE A REPLY