Edhi Sunarso, Anak Hilang Jadi Pematung Andalan Bung Karno

0
48

Jakarta | Nawacita – Seorang pemuda 21 tahun semringah ketika Presiden Sukarno menghampirinya, kemudian menjabat tangannya di sela pemantauan pembuatan Tugu Muda di Semarang.

“Kamu siapa?” kata Bung Karno kepada pemuda itu.

“Saya Edhi, pak,” jawab sang pemuda.

“Patung kamu bagus,” kata Bung Karno.

Demikian kira-kira pertemuan pertama Sukarno dengan Edhi Sunarso, pematung yang akhirnya menjadi andalan sang proklamator saat membuat patung-patung ikonis di Jakarta.

Edhi sudah sangat bersyukur hasil karyanya bisa dipuji orang nomor satu di Indonesia, setelah perjalanan rumit hidupnya sedari kecil.

Lahir di Salatiga pada 2 Juli 1932, Edhi sempat terpisah dari kedua orang tuanya sejak usia sekolah dasar. Ia lantas merantau ke Jakarta.

Berdasarkan penuturan anak ketiga Edhi, SatyaSunarso, ayahnya sempat tinggal dengan seorang pelukis ketika tinggal di Jakarta. Di sana, cintanya terhadap seni kian tumbuh.

“Dalam perjalanan, beliau mampir di Desa Dolok, ke tempatnya pak lurah. [Dia] enggak tahu kalau itu [pak lurah] adalah bapaknya. Terus lanjut ke Ambarawa, ketemu orang mirip, ternyata kakaknya,” tutur Satya kepada CNNIndonesia.com.

Namun, ia juga sempat menjadi tentara ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Edhi bahkan sempat dibui oleh Belanda di Sukamiskin, Bandung. Setelah bebas dari penjara, Edhi kembali ke Salatiga, menemui kakak orang tuanya.

Sepulangnya ke Yogya, Edhi memuaskan minatnya di bidang seni dan menjadi siswa di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI).

“Akhirnya bapak sekolah dengan bebas biaya. Dari situ, bapak dapat beasiswa ke India untuk belajar mematung,” tutur Satya.

Pada 1953, Edhi dan dua orang mahasiswa ASRI lainnya mengikuti kompetisi patung internasional di London. Dalam penjurian ulang, karya Edhi yang berjudul The Unknown Political Prisoners mendapatkan posisi kedua dari 117 negara peserta.

Edhi terus berkarya bersama seniman setempat hingga akhirnya ia bertemu dengan Bung Karno saat pembangunan Tugu Muda. Ternyata, Bung Karno memang sudah lama tertarik dengan hasil patung Edhi.

Baca : Puan Resmikan Monumen Soekarno di Aljazair

Beberapa tahun kemudian, Sukarno menyambangi kedamaian Edhi di Yogyakarta. Ia meminta Edhi membuat patung perunggu untuk menyambut tamu internasional menjelang Asian Games ke-4.

“Baru sekali itu rumah kami kedatangan seorang presiden. Masih ada foto-fotonya. Di situ Pak Karno memperagakan tangannya, “Selamat Datang! Gini lho, Ed,” kata Satya.

Edhi yang saat itu masih sebatas pematung dari batu dan tanah liat, ragu-ragu menjawab perintah Bung Karno.

“Itu pertama kali bapak ditantang sama Pak Karno, ‘Ed, masa kamu bunuh Belanda saja berani, bikin patung masa tidak berani?’ Dari situ bapak yang mantan pejuang menjadi tertantang,” ujar Satya.

Edhi langsung menemui I Gardono, arsitek dari Yogya yang kemudian sering menemani Edhi dalam membuat pesanan patung perunggu lain dari Bung Karno. Edhi bahkan sampai menyambangi PJKA (sekarang PT KAI) untuk belajar pengecoran bahan perunggu.

Keberhasilan Monumen Selamat Datang itu membuat Sukarno kembali mendapuk Edhi untuk membuat patung Monumen Pembebasan Irian Barat.

Kepercayaan dari Sukarno itu tak membuat Edhi besar kepala. Ia menarik beberapa kawan seniman dan mahasiswa di Yogya untuk ikut dalam proyek ini.

“Jadi pas disuruh ikut menghadap ke istana, bapak [Edhi Sunarso] sampai membelikan baju [untuk kawan seniman] supaya mengangkat nama seniman Indonesia; dan bapak itu dosen. Setiap pengerjaan patung bapak selalu melibatkan mahasiswa,” kata Satya.

Dalam proses pengerjaan Monumen Pembebasan Irian Barat, Edhi bahkan mengajak siswa-siswanya untuk tinggal di rumahnya di Jalan Kaliurang agar mereka tidak perlu membayar uang sewa sehingga dapat fokus dengan kuliah dan pekerjaan.

Kekompakan Edhi dan timnya berlanjut saat ia kembali dipercaya Sukarno membuat Patung Dirgantara. Belajar dari dua pesanan patung sebelumnya, Edhi akhirnya familier dengan proses pembuatan patung perunggu.

Ia langsung membuat cetakan Monumen Dirgantara di bengkel miliknya di Yogyakarta. Setelah rampung, satu persatu bagian Patung Dirgantara diangkut ke Jakarta menggunakan truk.

Baca : Kedekatan Bung Karno dengan para ulama NU

“Kalau zaman dulu memasang patung itu susah. Kami pakai stegel, nyambung satu persatu, dari kaki naik-naik. Itu ngelasnya di sana (Yogya). Enggak datang utuh. Kalau sekarang ada crane [jadi] enak, dan namanya seniman itu bapak tidak pernah mikir untung. Karyanya bisa terpasang itu senang sekali,” kata Satya.

Saat seluruh bagian tubuh Patung Dirgantara akhirnya sampai di Jakarta, Edhi juga ikut membantu proses perakitan patung.

“Bapak sampai manjat-manjat, naik ke patung Pancoran, dan itu ada foto-fotonya, tapi waktu itu bapak masih muda. Ya itu tadi, bapak ikut bangga bisa mewujudkan cita-cita Pak Karno,” kata Satya.

Pemerhati detail

Edhi Sunarso paham menjadi pematung bukan pekerjaan mudah, terlebih ketika harus membuat pesanan orang nomor satu di Indonesia.

“Jadi bapak itu sebelum mematung selalu bilang ini mau dipasang di mana, tingginya berapa. Bapak buat anatominya itu pas, seperti patung Selamat Datang kalau diukur, tangan ke atas itu lebih besar dibandingkan tangan ke bawah.”

“Kalau patung itu diturunkan, anatominya meleset. Ketika dipasang, jadi bagus, karena kita lihat dari bawah, kan? Jadi seimbang.”

Tidak hanya itu, Edhi juga sadar bahwa nilai sejarah sangat penting dalam membuat karya seni. Ambil contoh saat ia membuat patung Sukarno yang kini terpasang di Gelora Bung Karno.

“Saat mematungkan Pak Karno, bapak nanya dulu seperti, ‘Ini [Bung Karno] di usia berapa? Dilihat lagi foto-fotonya, detail sekali. Jarang ada seniman seperti itu. Sekarang orang membuat patung pahlawan, tahunnya berapa, sama bajunya tidak pas,” kata Satya.

Menghargai Kolektor Seni

Edhi Sunarso juga sangat menghormati kolektor seni. Dalam ingatan Satya, Edhi memegang prinsip hanya menyediakan maksimal tiga duplikat benda seni buatannya.

“Jadi,satu patung hanya boleh di-copy tiga kali beserta sertifikat, dan ada semacam barcode karena patung mudah sekali dicetak, karena bapak juga menghargai kolektor. Misalnya, patung A tingginya 10 cm itu hanya dicetak 3 kemudian misalnya sudah habis, akan ada edisi yang lebih besar atau lebih kecil,” kata Satya.

Edhi tak pernah mempermasalahkan jika ia sendiri tak bisa memiliki karya seni buatannya atau miniaturnya. Menurutnya, karya seninya memang sudah milik rakyat. Namun, Edhi sempat sangat kecewa karena ada beberapa pihak yang malah menggandakan karyanya.

“Bapak itu selalu bilang ini sudah milik rakyat. Artinya, boleh dipunyai untuk rakyat, tapi untuk dilihat, dihargai, dipajang, bukan untuk dikopi,” kata Satya.

CNN

LEAVE A REPLY