Tercatat 1.794 Janda Muda, Faktor Ekonomi Menjadi Penyebab Utama

0
45

Bojonegoro, Nawacita  – Selama 2020 tercatat 1.794 pengajuan perceraian di Blora. Rerata dipicu permasalahan ekonomi. Kondisi pandemi korona banyak suami kehilangan pekerjaan dan istrinya minta cerai. Panitera Muda Pengadilan Agama (PA) Blora Kastari mengatakan, pengajuan perceraian ini paling banyak adalah karena faktor ekonomi.

Terutama suami selama pandemi mendapat pemutusan hubungan kerja (PHK) kemudian istrinya tak mau, lantas mengajukan cerai. ‘’Logisnya saja, dari pada suami tak punya pekerjaan jadi mengajukan perceraian,’’ ujarnya.

Menurut dia, selain masalah ekonomi, ada beberapa perkara yang menjadi alasan perceraian, yakni karena si istri ditinggal pergi suaminya. Itu ditinggal selama bertahun-tahun. Karena merasa dibohongi, kemudian istrinya mengajukan gugatan cerai. ‘’Dalam kasus ini ada perempuannya yang pergi ada juga yang laki-lakinya yang pergi, lebih banyak laki-lakinya yang pergi,’’ ujarnya.

Dia menambahkan, selain itu banyak lagi alasan perceraiannya yang diajukan. Bahkan ada yang menikah baru satu bulan kemudian bercerai. Kemudian ada yang bercerai berkali-kali meski suaminya itu anggota polisi dicerai, kemudian nikah dengan pegawai bank juga dicerai.

Meski begitu dari sekian banyak penyebab itu tidak ada yang karena orang ketiga. ‘’Dari gugatan yang akan bercerai itu, untuk orang ketiga hampir tidak ada,’’ bebernya. Dari yang mengajukan cerai ini, lanjutnya, mendominasi adalah perempuan. Mereka rata-rata masih berusia muda. Antara usia 21 tahun sampai 40 tahun.

‘’Paling banyak itu malah mama-mama muda yang usia 30 sampai 40 tahun,’’ imbuhnya. Meski banyak yang mengajukan perceraian, kata dia, juga ada pasangan yang memutuskan rujuk kembali. Meski itu jumlahnya sangat sedikit. Sebab setiap yang mengajukan perceraian itu pasti ingin segera berpisah. ‘’Yang menggagalkan perceraian menjelang sidang dari hasil mediasi itu hanya 5 persen,’’ tukasnya.

Data pengajuan perceraian selama 2020, mulai Januari 185 kasus, Februari 132 kasus, Maret 141 kasus, April 59 kasus, Mei 76 kasus, dan Juni 174 kasus. Kemudian Juli 216 kasus, Agustus 174 kasus, September 211 kasus, Oktober 163 kasus, November 170, Desember 103.

Dari jumlah ini lanjutnya, bisa saja bertambah. Hanya saja selama April lalu sempat ada penutupan pendaftaran perceraian selama tiga minggu. ‘’Karena saat itu sempat harus work from home, jadi semua pendaftaran perceraian dari online dan offline dihentikan semua,’’ imbuhnya.

JP

LEAVE A REPLY