Dilarang Pemerintah-OJK, Debt Collector Masih Beroperasi

0
135
Kapolda Tindak Tegas Preman Berkedok Debt Collector.
Kapolda Tindak Tegas Preman Berkedok Debt Collector.

Surabaya, Nawacita – Meski pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melarang perusahaan pembiayaan atau leasing menggunakan debt collector (DC), tapi penagih utang itu tetap beroperasi. Seperti yang dialami Ina Herdiyana, putri nasabah PT Federal International Finance (FIF). Sepeda motor nopol M 4892 XD milik ayahandanya hendak dirampas DC saat dikendarai Ina Herdiyana di simpang empat Kedungcowek, Surabaya.

Ina Herdiyana menuturkan, pada Rabu (20/1) sekitar pukul 09.00, dirinya mengendarai sepeda motor menuju Terminal Bungurasih karena ingin mengantarkan temannya yaitu Hadiyah Rahmawati pulang ke Mojokerto. Setibanya di traffic light pertama simpang empat Kedongcowek, dia dipepet pemotor lain yang mengendarai sepeda motor matik.

”Pertama, satu orang mengendarai sepeda motor. Lalu, bapak itu menanyakan pelat nomornya benar FIF Pamekasan? Saya jawab benar. Bapak itu tanya lagi, benar ini atas nama Mas Jukun? Saya jawab bukan. Sebab, sepeda motor saya atas nama Heri, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep,” ujarnya.

Menurut Ina, pria yang diduga DC tersebut lalu memintanya menepi dan berhenti. Ina pun mengikuti arahan tersebut. Setelah menepi, DC tersebut lalu minta STNK sepeda motor lansiran tahun 2018 tersebut. Karena curiga, Ina hanya menunjukkan dan tidak menyerahkan STNK. ”Saya sudah jelaskan apa adanya, STNK saya atas nama Heri dan setiap bulan rutin bayar. Tidak nunggak. Tapi, bapak itu maksa terus,” ceritanya.

Rencananya, Ina ingin memperlihatkan struk pembayaran terakhir. Tapi, struk tersebut tidak dibawa. Tapi, DC tetap tidak percaya. Dia minta Ina ikut ke kantor FIF Surabaya. Karena Ina tidak percaya, ajakan itu ditolak. Lalu, Ina minta pria tersebut menunjukkan surat jalan. Ketika memperlihat surat jalan, ternyata surat jalan itu bukan dari FIF.

”Saya punya pengalaman dari teman, yang ujung-ujungnya DC minta duit,” terangnya.

Karena takut, Ina lalu lari ke kantor BRI dan minta tolong ke salah satu satpam. Tapi satpam di BRI tersebut tidak merespons. Padahal, Ina sudah menjelaskan dikejar beberapa pria yang mengaku DC. Ternyata, ada anggota polisi datang dan menanyakan pemicu keributan.

”Nah, saat ada polisi datang, komplotan orang itu kabur. Lalu, polisi tersebut mengantar ke pintu tol Suramadu arah Madura. Akhirnya teman saya tidak jadi pulang, balik lagi ke Madura,” bebernya.

Setelah di Madura, di pos polisi Tangkel, Ina minta tolong kepada polisi yang bertugas di lokasi tersebut. Sebab, masih trauma. Takut ada DC yang mencegat lagi. Lalu, polisi yang bernama Agung itu mengantarkan Ina ke kantor FIF Junok. Ina ingin klarifikasi ke FIF Junok. Saat dicek petugas, kendaraannya dinyatakan nunggak. Tapi, bukan atas nama Heri, melainkan orang lain.

”Saya tanya kenapa ada data ganda? Kalau seperti ini kan saya yang rugi. Lantas, petugas FIF meminta maaf dan menyuruh saya ke lantai dua,” terangnya.

Ina pun menuruti permintaan petugas FIF dan tetap ditemani anggota polisi bernama Agung. Saat dicek ternyata memang ganda. STNK yang satunya bernama Jukun yang nunggak selama tujuh bulan. ”Saya kan sudah bayar. Tidak ada tunggakan. Kalau seperti ini, saya yang rugi. Makanya saya meminta FIF ada ketegasan,” harapnya.

Sementara itu, Recovery Section Head (RSH) FIF Group Cabang Pamekasan Sadam menyampaikan, jika tunggakannya lama, misalkan lebih setahun, bisa saja nopol di samsat tidak berubah. Mungkin, dicetak ulang oleh samsat atas nama orang lain. ”Banyak kejadian seperti itu (pelat nomor double, Red). Kontrak macet, tapi tidak diperpanjang di samsat,” ungkapnya.

Ditambahkan oleh Sadam, pihaknya meminta STNK-nya untuk difoto. Pihaknya akan mengecek data di FIF Pamekasan. Hanya, pihaknya sudah tidak di kantor. ”Saya coba cek. Saya sekarang masih di perjalanan. Saya coba cek besok (hari ini, Red),” janjinya.

jp

 

LEAVE A REPLY