Menlu Retno: Pandemi Covid-19 Diperkirakan Belum Reda Hingga 2022

0
100
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

JAKARTA, Nawacita – Pandemi Covid-19 yang saat ini melanda hampir seluruh negara di dunia diperkirakan belum akan berakhir hingga 2022. Perkiraan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, mengutip prediksi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “WHO sendiri memperkirakan pandemi ini belum akan reda hingga 2022,” ujar Menlu saat Rapat Kerja bersama Komisi I DPR yang disiarkan secara virtual, Selasa (22/9/2020).

Data Worldometer per hari ini, total kasus Covid-19 mencapai 31.490.311 kasus dengan jumlah angka kematian hampir satu juta atau tepatnya 969.362 orang. Sementara korban yang sembuh sebanyak 23.119.419 orang. Dari jumlah itu, kasus tertinggi adalah Amerika Serikat (AS) sebanyak 7.046.216 kasus dengan angka kematian 204.506 orang, disusul India sebanyak 5.562.663 kasus dengan angka kematian sebanyak 88.965 orang, dan Brasil sebanyak 4.560.083 kasus dengan angka kematian 137.350 orang.

“Kita melihat angka kasus dunia masih terus meningkat di beberapa negara. Misalnya di Eropa, bahkan beberapa negara mengalami second wave (gelombang kedua),” tuturnya. Menlu mengatakan, situasi ini menimbulkan harapan terhadap ketersediaan vaksin yang aman, menjadi sangat besar.

Baca Juga: Menlu Retno: Indonesia Tidak Akan Jadi Basis Militer Negara Manapun!

Ketersediaan vaksin diperkirakan akan menjadi game changer, sekaligus harapan bagi masyarakat. Oleh karena itu, kata menlu, dari sejak awal pandemi, Indonesia secara konsisten terus menyampaikan pentingnya prinsip equal access to save an affordable vaccine di beberapa forum dunia. Antara lain di G20, WHO, bahkan DK PBB. “Prinsip tersebut harus terus dikedepankan karena tidak hanya mewakili kepentingan Indonesia, namun juga merefleksikan kepentingan sebagian besar negara di dunia,” tuturnya.

Dikatakan Menlu, untuk mendapatkan vaksin, ada dua pendekatan yang dilakukan. Pertama, pendekatan jangka pendek yakni, mendapatkan akses cepat terhadap vaksin yang aman dengan harga terjangkau. Pendekatan ini memerlukan kerja sama dengan pihak luar, baik secara bilateral maupun multilateral. “Kedua, pendekatan jangka panjang yaitu pengembangan vaksin nasional, vaksin Merah Putih yang kita harapkan menjadi penopang utama proses kemandirian terhadap vaksin Covid-19 di Indonesia,” katanya.
Baca Juga: Menteri Erick dan Menlu Retno Bakal Kunjungi UEA

Di tengah situasi emergensi kesehatan saat ini, kata Menlu, diperlukan tindakan cepat terkait ketersediaan vaksin, dengan terus mengutamakan faktor keamanan. Di satu sisi harus cepat, namun disisi lain juga harus aman. “Dan dua-duanya penting. Oleh karena itu, para diplomat kita baik yang ada di Jakarta dan beberapa negara, bekerja siang malam untuk dapat mengamankan beberapa komitmen vaksin,” katanya.

Sejauh ini, kata Menlu, Indonesia telah diperoleh komitmen pengadaan vaksin antara 20-30 juta vaksin pada 2020, dan 290 hingga 340 juta vaksin pada 2021 yang berasal dari Sinofet, Sinovac, G42 dari UEA. Selain itu, Indonesia juga melakukan kerja sama dengan perusahaan di Korea Selatan yang saat ini prosesnya memasuki akhir uji klinik tahap I di Korsel, dan akan dilanjutkan uji klinis tahap II pada Oktober nanti di Indonesia. Kerja sama serupa sedang dijajaki dengan dua perusahaan Inggris.

Di sisi lain, kata Menlu, Indonesia juga telah memperoleh komitmen ketersediaan vaksin multilateral. Indonesia masuk dalam 90 negara dalam kategori low and medium income dan diperkirakan akan mendapatkan vaksin 20% dari jumlah penduduk, serta keringanan finansial.

sdnws.

LEAVE A REPLY