Ahli Pertambangan Indonesia Gelar Konferensi Bahas Bisnis Batu Bara

0
98
ILustrasi pertambangan
ILustrasi pertambangan

JAKARTA, Nawacita –Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) akan menggelar Indonesian Coal Conference 5th secara virtual di Jakarta pada 11-18 September 2020.

Bertajuk Save Indonesia Coal (SIC), konferensi ini menjadi ajang profesional pertambangan untuk mencari solusi terbaik keberlangsungan sektor industri tambang batu bara.

Ketua Umum Perhapi Rizal Kasli menyampaikan industri pertambangan batu bara Indonesia kini menghadapi sejumlah tantangan seperti kecenderungan penurunan harga komoditas batu bara, tuntutan pengelolaan lingkungan dan tanggung jawab sosial, isu pemanasan global, hilirisasi batubara, serta terhentinya minat lembaga pembiayaan untuk mendukung industri ini.

Menurutnya, Indonesia harus cepat mengambil langkah antisipatif agar batu  bara tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi dan juga salah satu industri yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Indonesia masih sangat membutuhkan batu bara. Selain sumber energi nasional yang murah, juga sebagai solusi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Permasalahan di sektor ini harus disikapi secara positif agar dapat memberikan kontribusi optimal bagi bangsa dan negara,” ungkap Rizal dalam rilisnya, Kamis (13/8/2020).

Rizal mengungkapkan, Perhapi pada usianya yang ke–30 akan mengadakan konferensi yang mengangkat tema Save Indonesia Coal (SIC) guna mencari solusi terbaik bagi sektor industri tambang batu bara.

“Perhapi akan membuat rumusan penyelesaian terbaik dari sisi regulasi maupun bisnis. Batubara sebagai sumber daya alam tidak terbarukan diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan,” kata Rizal.

Sampai dengan Juli 2020, produksi batu bara Indonesia mencapai 271,35 juta ton, 49 persen dari rencana produksi berdasarkan persetujuan RKAB awal sebesar 550 juta ton. Angka ini 12 persen lebih rendah dari 2019 dengan produksi 616 juta ton. Selain penurunan produksi, harga batu bara juga tergerus sampai ke level US$50 per ton.

Harga batu bara kemungkinan bisa tergerus lagi atau mengalami stagnasi di level US$50-an jika tidak dilakukan pengendalian produksi secara nasional.

Jika kondisi ini berlangsung terus, berbagai dampak akan muncul. Penurunan produksi dan melemahnya harga akan membuat penerimaan negara turun, potensi PHK di sektor pertambangan, dan juga lesunya ekonomi di daerah pertambangan.

“Namun yang paling mengkhawatirkan adalah turunnya cadangan batu bara nasional dan rendahnya upaya pencarian cadangan baru atau eksplorasi. Semua ini harus cepat dirumusan solusi terbaiknya untuk kemajuan bersama,” katanya.

bsn

LEAVE A REPLY